Di Universitas Kehidupan, Setiap Orang Menghadapi Kertas Ujiannya Masing-Masing

Hi Pembaca yang baik hati, terima kasih telah mengunjungi diakhir.blog.

Alasan Saya Mendadak Tidak Ikut Kondangan

Di Sabtu pagi itu saya mengirim pesan Whatsapp ke teman saya, mengabari bahwa saya tidak jadi ikut rombongan kantor pergi kondangan.

Sedianya hari itu saya pergi bersama teman-teman kantor ke acara pernikahan rekan kerja kami di Serang, Banten.

Hanya saja, sejak tiga hari terakhir wilayah Jabodetabek lagi sering-seringnya diguyur hujan terutama di malam hari.

Saya khawatir rumah orang tua saya yang saat itu saya tempati kembali mengalami banjir seperti awal tahun 2020 silam.

Kondisinya ada sedikit kemiripan di mana dulu hujan turun lebih sering, tidak selalu deras hanya saja rutin turun selama beberapa hari sehingga tanah menjadi jenuh oleh air, belum sempat kering sudah basah kembali.

Sehingga di awal 2020 tersebut rumah yang saya tinggali kemasukan air baik dari luar rumah maupun rembesan lantai. Banjir yang kemudian merendam dan merusak beberapa barang di rumah termasuk hape iPhone saya dan sejumlah (ratusan) buku.

Maka kali ini, di awal tahun 2023 saya kembali mewaspadai kehadiran banjir.

Teman-teman saya pun pergi kondangan tanpa saya. Saya melihat foto-foto mereka di group Whatsapp. Wajah-wajah mereka tampak ceria di hari bahagia pernikahan teman kami.

Setiap Orang Punya Kertas Ujian Masing-Masing

Keputusan yang saya buat di hari itu (tidak jadi ikut kondangan) menyadarkan kembali diri saya pada hakikat kehidupan.

Sesungguhnya kehidupan ini bagaikan sebuah kampus, universitas kehidupan.

Setiap manusia belajar dan menempuh ujian di kampus kehidupan itu.

Dan saya perlu mengingat bahwa di universitas kehidupan setiap orang menghadapi kertas ujiannya masing-masing.

Masing-masing orang menghadapi ujian kehidupannya.

Seperti saat itu, saya sedang diuji dengan rasa takut menghadapi banjir yang masuk ke dalam rumah. Rasa takut yang valid sebab air banjir dari luar maupun dalam tanah memang terbukti pernah masuk ke dalam rumah.

Sedangkan teman-teman saya saat itu tidak mengalaminya.

Lokasi rumah yang saya tempati itu memang berada di cekungan, sehingga berpotensi menjadi tempat berkumpulnya air yang mengalir dari berbagai arah. Bisa tergenang apabila hujan sering turun tanpa memberi waktu yang cukup untuk tanah sekitar menyerap air.

Soal rumah yang saya tempati sejak kecil ini memang pernah menjadi bahan pikiran saya saat saya masih kecil.

Waktu SD dulu saya bertanya-tanya mengapa rumah teman-teman SD saya jendelanya ada kacanya sedangkan rumah saya jendelanya tidak ada kacanya, hanya kawat yang dipasang kotak-kotak kemudian ditutup kain korden.

Dulu pernah kakak saya dengan polosnya menjawab soal IPA “terbuat dari apakah jendela rumahmu?” dengan “kawat”. Padahal jawaban yang diharapkan adalah “kaca”.

Selain itu dulu lantai rumah saya pecah-pecah, terbuat dari semen dan entah apa saya tidak tahu.

Ketika ada teman yang bertanya mengapa lantai rumah kami retak-retak, saya dengan yakinnya menjawab, “ini akibat gempa bumi beberapa tahun lalu” karena saya pernah mendengar kakak saya menjawab seperti itu ketika ada temannya yang main ke rumah kami dan bertanya pertanyaan yang sama.

Yang paling tidak enak, dulu saluran pembuangan air di rumah kami “didesain sedemikian rupa” sehingga tiap pagi dan sore hari saya perlu membantu orang tua saya menguras penampungan air kotor dengan menggunakan ember. Sambil jongkok. Pegel.

Kakak saya pernah bilang, “kenapa ya di rumah kita ini ada hal-hal yang tidak terjadi di rumah teman-teman kita?”

Ya, itu adalah ujian yang kami hadapi.

Di sisi lain, saya tahu beberapa orang merasa kagum melihat perkembangan pendidikan saya dan saudara-saudara saya. “Bapak ini (ayah saya) anaknya rajin-rajin belajarnya”, begitu kira-kira citra yang saya dan saudara saya peroleh.

Sedangkan anak-anak mereka ada yang tidak mau sekolah meskipun uangnya berlimpah. Ada yang tergoda narkoba. Dan sebagainya.

Rupanya kendala di semangat untuk belajar di sekolah tidak dialami oleh saya dan saudara-saudara saya. Akan tetapi menjadi ujian bagi beberapa anak-anak mereka.

Kita benar-benar menghadapi kertas ujian masing-masing.

Bila Sedang Kesulitan Tidak Merasa Diri “Si Paling Susah”, Bila Mendapat Anugerah dari Allah Bersyukur

Maka di sini saya menyadari bahwa alangkah baiknya jika saya memahami bahwa:

Pertama, apabila saya sedang mengalami kesulitan, janganlah saya merasa menjadi satu-satunya orang yang sedang mengalami kesulitan, jangan saya merasa diri sebagai “si paling susah”.

Sebab orang lain yang tampak lebih bahagia sebenarnya juga pasti punya ujian lain yang saya belum ketahui.

“Saya bukanlah orang yang paling kesusahan”. Ucapkan kalimat itu, ya, wahai pembaca blog ini.

Kedua, apabila saya mendapat anugerah berupa kemudahan di satu hal, janganlah saya meremehkan atau menyakiti hati orang lain yang tidak memperoleh anugerah tersebut.

Saya pernah mengalami diolok-olok orang karena saya termasuk yang paling belakangan menikah di banding teman seangkatan.

Lucunya, salah seorang yang mengolok-olok saya waktu itu adalah anak orang kaya yang sudah menikah ketika dia masih kuliah. Mengundang group musik terkenal pula.

Ayolah, dia punya privilege berupa orang tua yang kaya, tidak perlulah mengolok-olok saya yang tidak punya privilege itu.

Lahan perjuangan kita berbeda, kawan.

Bersyukur sajalah kamu, jangan usik saya yang sedang dan masih berjuang. Jangan, ya! Begitu kata batin saya saat itu. 🙂

Nah, jadi seseorang tidak boleh merasa menjadi orang yang paling sengsara.

Sekaligus juga tidak boleh sombong dengan kelebihan yang Allah berikan, baik kekayaan, kecerdasan, kelapangan, paras wajah, dan sebagainya.

Fokus saja pada soal-soal di kertas ujian masing-masing.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat diri saya bahwa kita semua sedang menghadapi ujian hidup masing-masing.

Iqbal – diakhir.blog


Posted

in

by

Comments

One response to “Di Universitas Kehidupan, Setiap Orang Menghadapi Kertas Ujiannya Masing-Masing”

  1. Adam Muiz Avatar

    Menurutku mereka yang selalu ingin ‘teman’ dalam kondisi yang sama,
    cuma belum paham bahwa kita berada pada kondisi yang berbeda.

    Kesadaran tersebut memang sulit didapatkan,
    karena setiap orang memiliki tingkat empati yang berbeda.

    Rasa “Empati” memberikan kesadaran,
    bahwa setiap orang menghadapi kertas ujiannya masing masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *