Kebiasaannya Hanya Memberiku Roti dari Pasar (Motivasi Menuntut Ilmu Syar’i)

Malam itu seorang teman menghubungi saya via WhatsApp:

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar? Mau nanya pernah ikut International Open University kah?” tanyanya.

“Waalaikumsalam wr. wb. pernah, cuma lagi berhenti dulu karena biaya semesternya lagi di atas budget saya. Gimana, gimana?” jawab saya yang baru membalas keesokan paginya.

“Sudah berapa semester? Kamu ambil jurusan apa?”

“Saya lagi di jalan, nanti saja mending kita obrol-obrol sebentaran via audio call biar bisa bahas beberapa topik seputar IOU jam 07.30 nanti saya available insya Allah.”

Namun karena kesibukan masing-masing, kami tidak jadi ngobrol-ngobrol via audio call di pagi itu dan baru benar-benar bisa ngobrol-ngobrol pada pukul 21.45 malam harinya.

Dalam obrolan tersebut saya pun menyampaikan beberapa hal berikut:

(1) Saya mendaftar kuliah di IOU, sebuah kampus online berbasis di Gambia, pada tahun 2014 bersamaan dengan momen saya kuliah di Jepang (Hiroshima University).

Pada saat itu nama kampusnya adalah Islamic Online University, kemudian sebagaimana disampaikan pada akun Facebook resmi IOU pada tanggal 13 Januari 2020, Islamic Online University berganti nama menjadi International Open University.

Pengumuman di akun FB IOU mengenai perubahan nama dari Islamic Online University menjadi International Open University
Pengumuman di akun FB IOU mengenai perubahan nama dari Islamic Online University menjadi International Open University

(2) Saya mengambil program degree atau berijazah S1 jurusan studi Islam yang memiliki nama resmi Bachelor of Arts in Islamic Studies (BAIS).

Alasan saya mengambil jurusan tersebut karena saya merasa membutuhkan mempelajari ilmu agama untuk saya pahami, amalkan, dan menjadi bekal untuk saya ajarkan kepada keluarga saya kelak.

(3) IOU terus berkembang sehingga sekarang telah memiliki beragam jurusan/program, bukan hanya Islamic Studies, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai Islam sebagaimana telah menjadi misi pendirinya yaitu Dr. Abu Ameenah Bilal Philips.

Maka apa pun jurusannya, di dalamnya akan disertakan nilai-nilai Islam yang di antaranya diimplementasikan dalam bentuk mata kuliah wajib yaitu mata kuliah Aqidah, Etika Menuntut Ilmu, Fikih, dan sebagainya.

(4) Di tahun 2014 itu belum banyak orang Indonesia yang belajar di IOU. Sedangkan sekarang telah bertambah jumlah peminat kuliah di IOU.

Nama IOU pun semakin dikenal, iklannya sering muncul di beranda FB. Teman saya yang menghubungi saya buat nanya-nanya tentang IOU pun terdorong untuk mencari tahu setelah melihat iklan IOU di FB.

(5) Karena dinamika kehidupan saya, seperti misalnya yang tadinya masih single kemudian menikah, punya anak pertama, dan sebagainya serta aktivitas lainnya yang juga dinamis, maka saya pun memutuskan untuk vakum sejenak dari perkuliahan.

Selanjutnya ada hal teknis dan juga masalah ketersediaan budget yang membuat saya melanjutkan cuti kuliah saya hingga sekarang.

Untuk memenuhi kebutuhan belajar Islam secara terstruktur saat ini saya mengikuti kuliah online di Ma’had Bimbingan Islam (BIAS) dan Kuliah Online Bimbingan Islam dan Bahasa Arab (BISA).

(6) Menambahkan info perkembangan IOU, beberapa tahun lalu sudah pernah ada alumni IOU yang melakukan penyetaraan ijazah luar negeri.

Sekarang mungkin jumlah alumni asal Indonesia semakin bertambah.

Untuk mengetahui status penyetaraan ijazah luar negeri, kita bisa mengeceknya di website Kemendikbudristek.

Dengan memasukkan “Gambia” (lokasi kampus IOU) di kolom “Nama Negara”, dapat diketahui bahwa baik Islamic Online University maupun dengan nama barunya, International Open University, keduanya pernah ada alumni asal Indonesia yang melakukan penyetaraan ijazah.

Sudah pernah ada yang mengajukan penyetaraan ijazah Islamic Online University dan International Open University
Sudah pernah ada yang mengajukan penyetaraan ijazah Islamic Online University dan International Open University

(7) Sebagai penutup saya sampaikan bahwa menurut saya kuliah di IOU sebenarnya aktivitas yang menyenangkan dan saya rekomendasikan, tapi karena satu dan lain hal maka saya sendiri belum bisa melanjutkan.

Ketika menutup obrolan, teman saya pun berterima kasih atas waktu yang saya sediakan. Saya jawab, “Wah, saya juga senang, kok, kalau kamu tertarik mencoba belajar di IOU”.

Saya meyakini sesungguhnya menuntut ilmu syar’i (Ilmu Islam) adalah kewajiban sekaligus kebutuhan esensial setiap muslim.

Maka saya senang ketika dapat membantu memberi informasi sejauh yang saya bisa.

Adapun saat ini berhubung saya sedang tidak aktif berkuliah di IOU, maka saya hanya bisa menyampaikan apa yang pernah saya ketahui di masa saya masih menjadi mahasiswa aktif.

Bicara tentang menuntut ilmu syar’i sebagai kewajiban sekaligus kebutuhan esensial setiap muslim, ada satu artikel yang ingin saya share di sini yang berjudul “Nasihat bagi yang Sering Naik Gunung dan Melalaikan Keluarga” oleh Rumaysho.com.

Di dalam artikel tersebut ada kutipan tafsir Surat At-Tahrim ayat 6 yang perlu kita pahami dan perhatikan sebagai bahan perenungan sekaligus motivasi untuk menuntut ilmu syar’i:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat At-Tahrim ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6)

Menjelaskan ayat tersebut, dalam Tafsir As-Sam’ani (5:476) disebutkan riwayat:

Dari ‘Amr bin Qais Al-Malaa’i berkata: “Sungguh seorang istri akan mendebat suaminya di sisi Allah pada hari kiamat. Istri akan berkata, “Sejatinya dahulu suamiku di dunia tidak pernah mendidikku dan tidak mengajariku satu ilmu pun. Kebiasaannya hanya memberiku roti dari pasar.”

Dalam kajian umum “Urgensi Thalabul Ilmi” pada hari Sabtu, 7 Januari 2023 yang disampaikan oleh Ustaz M. Fajar Basuki dari Yayasan Bimbingan Islam dan Bahasa Arab (Yayasan BISA), mengutip tafsir yang sama dalam menit ke 43:00-46:00 bahwa kelak seorang istri akan mengadukan suaminya di hadapan Allah, bahwa sang suami hanya disibukkan dengan menyediakan makanan dan minuman untuk keluarganya, kemudian dia lalai dari mendidik ilmu agama kepada istrinya.

Sehingga tidak ada bedanya antara sebelum dan setelah menikah, karena sebelum menikah pun istrinya juga bisa makan dan minum di tengah-tengah keluarganya, sedangkan ketika sudah menikah mestinya mendapatkan didikan ilmu agama dari suaminya.

Mudah-mudahan kutipan tafsir di atas bisa menjadi semangat untuk kita semua dalam menuntut ilmu syar’i.

Dan semoga tulisan ini bermanfaat.

Iqbal – diakhir.blog

Featured Image: Pexels.com / Shawn Reza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *