Bagaimana Cara Berterima Kasih kepada Orang Tua yang Telah Wafat?

Hi Pembaca yang baik hati, terima kasih telah mengunjungi diakhir.blog.

Bagaimana cara kita berterima kasih kepada orang yang telah wafat, khususnya orang tua kita?

Dalam tulisan ini saya akan menyampaikan inti ceramah Ustadz H. Agus Syamsudin, Lc., dosen di Ma’had Al Husnayain, Bekasi, yang pernah disampaikan pada acara pengajian keluarga saya di Bekasi pada 13 Agustus 2022 lalu.

Saya posting di blog ini, di 2024 ini, untuk membantu saya mengingat pesan-pesan di dalamnya.

(1) Dalam Hadits disebutkan, siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, tidak berterima kasih kepada Allah.

Sehingga salah satu ciri orang yang bersyukur kepada Allah adalah orang yang bisa berterima kasih kepada manusia.

(2) Idealnya orang yang diberi kebaikan oleh orang lain akan memberi balasan kebaikan pula.

Namun adakalanya tidak semua orang bisa selalu membalas kebaikan orang lain.

Sehingga kita bisa mengucapkan “Jazakallahu kharian” yang artinya “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan”.

Kalimat tersebut bermakna:

(a) Saya tidak bisa membalas kebaikan Anda.

(b) Tetapi saya yakin Allah akan membalas kebaikan Anda dengan sesuatu yang lebih baik dari yang telah Anda berikan kepada saya.

(3) Cara berterima kasih kepada orang yang pernah berperan dalam hidup kita, namun telah meninggal dunia adalah dengan sering-sering mendoakannya dan memintakan ampunan Allah untuknya.

(4) Mendoakan orang yang baru meninggal adalah hal yang normal dan wajar.

Tetapi mendoakan orang yang telah meninggal berpuluh-puluh tahun yang lalu adalah bukti ketulusan doa.

(5) Di acara TV berjudul Bedah Rumah, pernah ada seorang nenek tua yang mencium tangan presenter acara yang usianya jelas-jelas lebih muda.

Kenapa nenek itu mencium tangannya? Karena beliau merasa sangat berterima kasih kepada sang presenter dan tim Bedah Rumah.

Ketahuilah, rasa terima kasih orang yang meninggal ketika mendapat kiriman doa akan melebihi rasa terima kasih sang nenek di Bedah Rumah tersebut.

(6) Banyak orang yang keliru ketika bilang:

“Wah, anak-anaknya sudah jadi “orang”, sudah pada sukses, almarhum orang tuanya pasti senang di alam sana..”

Kesuksesan anak-anak tidak serta-merta menjamin kebahagiaan almarhum orang tuanya.

Kebahagiaan almarhum orang tua adalah ketika anak-anaknya menjadi orang sholeh yang tidak lupa mendoakannya.

(7) Jika orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi dan bicara, yang paling ingin dia lakukan adalah melakukan shadaqah dan amal sholeh.

(8) Yang terputus dari orang meninggal adalah amalannya, bukan pahalanya, sehingga pahala masih bisa terus diraih oleh orang yang telah meninggal.

Ini juga berarti seorang muslim yang sudah meninggal masih bisa memperoleh kesempatan mendapat ampunan Allah.

(9) Pahala shadaqah yang dikirimkan untuk orang tua yang telah meninggal akan sampai.

(10) Dalam acara pengajian, niatkan makanan yang disajikan sebagai sedekah untuk orang tua yang sudah meninggal.

Kalau makanannya habis pasti akan terasa senang karena berarti sedekahnya bermanfaat.

(11) Hubungan pernikahan akan berakhir dengan 2 hal (a) cerai (b) ditinggal mati. Sehingga ketika seorang suami/istri meninggal, maka yang ditinggalkan akan menjadi mantan istri/suami, atau janda/duda.

Suami istri yang berpisah karena kematian akan bisa menikah lagi di akhirat jika keduanya sama-sama masuk surga.

Itulah ringkasan kajian Ustadz H. Agus Syamsudin, Lc. yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat.

Iqbal – diakhir.blog

Featured Image: Pixabay.com / Avili


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *