Saatnya Bertanya Apakah Semua Kesibukan Ini tidak akan Menjadi Debu Beterbangan?

1. Seorang Mahasiswa yang Melakukan Apa Saja

Seorang pemuda baru saja diterima di fakultas kedokteran di sebuah kampus favorit. Sebuah kampus yang sejak lama menjadi impiannya. Dia ingin menjadi dokter.

Di awal semester pertama, dia membeli berbagai macam buku kuliah kedokteran dengan penuh riang gembira.

Di dalam hatinya dia membatin “Saya ingin kamar kos saya dipenuhi buku-buku biar saya bisa merasakan secara totalitas bagaimana menjadi seorang mahasiswa di kampus yang sangat bergengsi ini!”

Selain buku-buku, dia juga mencari foto-foto kampus tersebut di internet lalu mencetaknya dan menempelnya di dinding kamar kosnya.

Tak hanya itu, dia pun mengecat kamar kosnya dengan warna yang senada dengan warna almamater kampus tersebut.

Setiap pagi dia joging mengitari area kampus sambil berseru “Aku cinta kampusku!!”.

Dia membeli banyak sekali pot bunga lalu menaruhnya di berbagai sudut kampus. Dilakukannya di malam hari agar tidak ada seorang pun yang melihat.

Source: Pixabay.com / Milada Vigerova

Sebagai bentuk totalitas, dia bahkan meletakkan pot-pot bunga itu di sudut yang jarang dilewati orang.

Di tempat tersembunyi yang bahkan kucing oren pun tidak pernah lewat situ.

Suatu waktu dia kurang puas dengan pot bunga yang diletakkannya, hemm saya harus bikin rak dari kayu. Kalau bisa sih yang dibuat dari kayu jati biar tahan dalam segala situasi seperti panas terik matahari dan hujan!

Yang selanjutnya dilakukannya adalah dia survei harga rak-rak kayu.

Ternyata kalau dihitung-hitung lumayan mahal jika harus membeli rak yang terbuat dari kayu jati.

Dia pun mulai tekun belajar membuat rak kayu yang bagus. Biar bisa bikin sendiri.

Bukan hanya sekadar belajar sendiri, dia bahkan pergi ke Jepara untuk belajar cara membuat mebel berkualitas.

Setelah 3 bulan intensif belajar membuat mebel, akhirnya dia berhasil membuat beberapa rak kayu dari jati yang digunakan untuk menaruh pot bunga yang disebar di sudut-sudut kampus.

Saat mengecek ATM, dia pun mulai menyadari uang tabungannya telah terkuras cukup banyak karena berbagai pembelian yang dilakukannya.

Dia pun bekerja paruh waktu di minimarket yang buka 24 jam, dia bekerja di shift malam.

Dari uang hasil kerja kerasnya, dia membeli beberapa ikan kecil lalu menebarnya di kolam-kolam ikan yang ada di kampus tersebut.

Banyak sekali hal yang sudah dilakukannya selama semester pertama tersebut.

2. Surat dari Kampus Tercinta

Di akhir semester pertama, di suatu sore dia menerima sepucuk surat dari kampus tercintanya.

Isinya pemberitahuan bahwa dia sudah di drop out alias di-DO alias dikeluarkan dari kampusnya!

Dengan rasa terkejut dia pun datang ke kampus dan menemui pihak rektorat untuk menanyakan alasannya mengapa dikeluarkan dari kampus.

Kenapa, kenapa?? hatinya protes.

Di hadapan Pak Rektor, dia lalu mengeluarkan bukti pembelian beragam produk dan foto-foto aktivitas yang dilakukannya selama ini, mulai dari mengecat trotoar area kampus hingga menanam pohon-pohon pisang di belakang gedung fakultas.

Semuanya telah dilakukannya!

Pak Rektor menjawab, “Kami tak pernah meminta Anda melakukan itu semua. Sama sekali tidak pernah. Kapan kami pernah meminta Anda melakukan itu semua??”

“Sedangkan sebagai mahasiswa Anda wajib mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas-tugas kuliah dan ujian. Itulah yang kami minta. Dan itu justru malah sama sekali tidak pernah Anda lakukan.”

3. Akankah Menjadi Debu Beterbangan

Kisah barusan bukanlah kisah nyata. Hanya perumpamaan atau analogi belaka.

Sang pemuda dalam perumpamaan ini memang sibuk, sangat sibuk. Tentu kita semua sepakat bahwa dia seorang yang sangat sibuk.

Akan tetapi ternyata kesibukan yang dilakukannya bukanlah kesibukan yang membawanya pada tujuan.

Bagaimana rasanya jika kita menemui mahasiswa seperti yang diceritakan dalam tulisan ini?

Mungkin kita akan menggeleng-geleng, ada apa ini dengan sang mahasiswa, apa akalnya tidak baik-baik saja?

Sungguh mengherankan, bukan? Kenapa banyak sekali yang dilakukannya tetapi ternyata dia malah tak melakukan hal yang paling penting yaitu mengikuti kegiatan perkuliahan.

Kita terheran-heran jika kisah ini benar-benar ada. Padahal… sebenarnya kisah ini bisa saja kita sendiri juga melakukannya, hanya saja dalam bentuk lain.

Sebagai seorang muslim saya meyakini bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Al-Qur’an Surat Az-Zariat ayat 60)

Kemudian ketika menjalani kehidupan di dunia, banyak sekali hal yang dilakukan… yang bisa jadi sebenarnya tak semua dari kesibukan tersebut semakin membawa diri mendekat kepada tujuan hidup.

Barangkali kita merasa teramat lelah oleh kesibukan atau bisa juga merasa telah berprestasi, merasa telah melakukan banyak hal fantastis, hal-hal yang luar biasa.

Padahal jangan-jangan nanti semuanya menjadi debu yang beterbangan.

“Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 23)

Maka, adalah ide yang sangat bagus jika saat ini kita mulai mengevaluasi kembali kesibukan demi kesibukan yang telah, sedang, dan akan dilakukan. Akankah sudah berada di jalur yang akan membawa kepada tujuan hidup.

Iqbal – diakhir.blog

Featured Image: Pixabay.com / fancycrave1

Leave a Reply

Your email address will not be published.