Semut Masuk Laptop dan Pilihan Hidup

Saat saya laptopan di meja setrika, beberapa kali saya melihat ada semut yang mencoba menghampiri laptop saya.

Di dekat meja setrika ini tampaknya memang ada sarang semut karena sesekali muncul barisan semut.

Dari sekian semut yang beraktivitas, ada saja beberapa yang memanjat layar laptop dan ada juga yang masuk ke keyboard.

Yang masuk keyboard ini yang menyebalkan.

Masih mending kalau ketahuan pas mereka lagi menuju keyboard, bisa dicegat di tengah jalan.

Tapi ada juga yang muncul tiba-tiba lalu lari menuju keyboard dan berhasil menyelinap ke salah satu tombolnya.

Gagal ditangkap dan lenyap tak menampakkan batang hidungnya lagi. Eh, semut punya hidung ngga ya?

Saya khawatir keberadaan mereka di dalam laptop bisa merusak laptop.

Saya pun googling “semut masuk ke laptop” dan menemukan tidak sedikit artikel yang membahas tentang itu. Lho, ternyata memang semut adalah hewan yang terkadang menyelinap diam-diam masuk ke barang-barang elektronik. Jadi yang mengalami masalah ini bukan hanya saya saja.

Di beragam artikel tersebut ada semut yang sampai bikin sarang dan beranak-pinak di dalam peralatan elektronik. Yang terparah malah bisa bikin korsleting listrik!

Maka saya pun mulai mewaspadai kehadiran mereka menghampiri laptop saya karena kondisinya yang sudah pada sampai tahap mengganggu.

Saya mencoba menggunakan kapur penghalau semut yang saya beli di minimarket. Sebelumnya saya pernah memakai kapur ini di lantai, mengelilingi kasur, waktu jaman ngekos dulu. Terbukti efektif mencegah semut menghampiri kasur.

Tapi kali ini berbeda. Ada semut-semut yang nekad melalui kapur tersebut, bahkan ada yang berkeliling mengitari area laptop demi mencari jalan menuju laptop.

Sedemikian gigihnya seakan laptop saya adalah sajian makanan nikmat bagi mereka.

Kemudian saya pun berpikir. BUMI ALLAH ITU LUAS.

Bumi ini luas banget, malah jauh lebih luas bagi seekor semut ketimbang bagi manusia, ya kan?

Semut bisa pergi ke mana saja mereka mau. Ke dalam tanah, ke atas genteng, ke langit-langit, ke kolong meja, LITERALLY ke mana saja. Ke tempat yang bahkan tak bisa dijangkau oleh manusia.

Kalau tidak menghampiri laptop saya, mestinya mereka akan aman.

Mereka bisa ke mana saja dan tinggal di mana saja tanpa perlu bayar sewa kosan atau kontrakan, tanpa perlu beli rumah atau tanah, tanpa perlu menginap di hotel, tak perlu bayar parkir.

Banyak tempat bisa mereka kunjungi dan tempati, daripada ke laptop saya yang berakibat mereka terjebak tak bisa muncul lagi menghirup udara segar.

Mengherankan? Tidak juga.. karena kalau dipikir-pikir lagi apa yang mereka lakukan itu hal yang wajar.

Kenapa? Karena mereka semut. Mereka hewan. Hewan tidak dikaruniai akal pikiran seperti manusia.

Well, pertanyaannya, apakah kita sebagai manusia juga pernah bertindak layaknya sang semut memasuki laptop atau barang elektronik lalu mati tersetrum atau terjebak di dalamnya padahal di luar laptop ruang geraknya sangatlah luas?

Wah, saya jadi ingat cerita ini:

Baru-baru ini seseorang, sebut saja A (bukan nama sebenarnya), memperlihatkan group WhatsApp (WA) alumni sekolahnya. Anggota group WA tersebut semuanya adalah teman-teman seangkatan A.

Kecuali 1 orang, yaitu K (bukan nama sebenarnya) yang merupakan suami dari teman sekelas A.

Jadi K ini bukan alumni sekolah mereka, yang alumni adalah istrinya.

Para member group tersebut semuanya telah berusia lanjut dan sebagian besar sudah punya cucu. Maka sudah selayaknya group WA tersebut bisa menjadi sarana silaturahim dan bertukar cerita kenangan masa lalu yang indah dan berkesan. Begitu ya kan?

Sayangnya ada 1 member yang merusak kenyamanan group tersebut, yaitu.. K yang sebenarnya satu-satunya anggota nonalumni di group tersebut!

K kerap memposting tulisan-tulisan hoaks (informasi palsu) yang menyerang salah satu tokoh yang tidak disukainya.

K, meski bukan alumni sekolah dan telah diberi kesempatan buat join group WA tersebut, bersikeras menyebar tulisan-tulisan yang tak berasal-usul yang menyerang pihak yang dibencinya.

Beberapa member group yang merasa kesal satu per satu mulai meninggalkan group tersebut (leave). Sedangkan yang tetap bertahan seakan bersepakat untuk mendiamkan semua postingan-postingan K, tidak merespon sama sekali.

Mereka baru “muncul” ketika ada member lain yang posting atau bertegur sapa.

K tampaknya tidak berpikir apakah perbuatannya akan membuat malu istrinya di hadapan teman-teman sesama alumni sekolah istrinya.

Gigih menulis postingan-postingan yang sebenarnya tidak menguntungkan dirinya sama sekali, malah sebaliknya merugikan dirinya sendiri dan istrinya. Padahal jika dia tidak melakukannya dia tidak akan rugi.

Menyebar kabar hoaks semacam ini sebenarnya perbuatan yang aneh. Itu tidak akan memberikan kepuasan apa pun bagi penyebarnya, dan jika tidak melakukannya pun tidak akan rugi. Tapi jika melakukannya jelas akan merugi (tanggung jawab di akhirat).

”Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Terlalu banyak hal lain yang sebenarnya bisa kita lakukan, bisa bercocok tanam di halaman rumah, jalan-jalan atau traveling, tidur, menonton ceramah/inspirasi di Youtube, belajar bikin blog, menulis konten, mengajak bermain anak atau cucu, berkunjung ke teman-teman lama saling bertukar kisah, dan lain sebagainya.

Layaknya semut yang memperoleh kesempatan pergi ke mana saja.

Iqbal – diakhir.blog

Featured Image: Pexels.com / Karolina Grabowska

4 responses to “Semut Masuk Laptop dan Pilihan Hidup”

  1. Mungkin tujuan utama tulisan ini dimaksudkan untuk mengingatkan mengenai suatu perbuatan manusia yang merugikan diri sendiri, layaknya makhluk yang tidak dikaruniai akal pikiran. Tapi saya ingin membalas soal semut di sini karena tulisan ini relate dengan saya.

    Kebetulan beberapa hari yang lalu earbuds saya kemasukan semut, kemudian semut itu masuk ke telinga saya. Saya merasakannya saat saya sedang berbicara dalam Google Meet. Alhasil saya panik dan seketika izin leave. Untung semut itu bisa keluar setelah saya memasukkan air ke telinga saya. Meskipun akhirnya dia keluar dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

    Saat kembali ke Google Meet, semua orang tertawa mendengar penjelasan saya. Saya yang tidak habis pikir dengan kejadian itu ikut menertawai diri sendiri.

    Selain itu, semut juga pernah masuk ke 2 saklar dinding rumah saya, membuatnya tidak bekerja. Saat saya bongkar, terlihat gerombolan semut yang sudah gosong dan saling menempel.

    Semut juga sering mengeruk pasir di keramik rumah, membuat roti lebaran jadi tidak lagi indah, masuk ke laptop, masuk ke kamera, dan mungkin masih ada kerepotan lain yang timbul karenanya.

    Tapi biar bagaimanapun juga ia tetaplah makhluk yang hanya mencoba untuk bertahan hidup. Jadi kita memang harus sabar dan mencoba mengatur strategi agar keberadaannya tidak mengganggu kita. Hehehe.

    • Waduh, alhamdulillah bisa dikeluarin ya semutnya meski dalam keadaan udah tak bernyawa.

      Baru kemarin kamar mandi saya lampunya mati. Lalu saya ke minimarket beli lampu. Sudah diganti dengan yang baru masih mati juga. Besoknya panggil tukang listrik, ternyata kabelnya listriknya dirusak semut.

      Sejauh ini kalo ada semut lagi berkerumun saya biarkan aja beraktivitas, kecuali yang nyoba masuk laptop itu hehe. Paling intervensi baru dilakukan kalo mereka mulai tahu-tahu nempel ke handuk dan gigit.

  2. Ngomong masalah semut yang masuk dalam keyboard, aku juga pernah mengalaminya.
    Karena makan biskuit sambil mengetik, jadilah semut masuk kedalam keyboard.
    Padahal sudah dibersikah, walaupun luarnya terlihat bersih. Tapi dalamnya ternyata masih banyak semut yang mati.
    Rusaklah keyboard ku itu.

    • Nah, itu dia yang bikin was-was, kelihatan dari luar bersih, di dalamnya udah ada sarang. Kalau lihat video-video di Youtube malah ada yang sampai masuk layar monitor.

Leave a Reply

Your email address will not be published.