Ide Resolusi Ramadhan: 7 Amalan Esensial

ramadhan mengikat inspirasi diakhir.blog

Kedatangan bulan Ramadhan harus kita sambut dengan sambutan yang belum pernah kita berikan sebelumnya.

Maka dalam tulisan kali ini saya mencoba menulis beberapa hal yang semoga bisa menjadi ide atau inspirasi resolusi Ramadhan yang dapat dilakukan di tahun ini, tahun 2022/1443 Hijriah.

Tekad melakukan perbaikan diri di bulan Ramadhan kali ini menandakan bahwa kita masih terus berharap memperoleh ampunan dan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Resolusi Ramadhan atau resolusi bulan puasa adalah target-target yang ingin dilakukan atau ingin dicapai di bulan Ramadhan. Tujuan dari menyusun target-target tersebut adalah memastikan bahwa di Ramadan tersebut ada perbaikan diri.

Target tersebut bisa berupa hal-hal yang terukur atau konkret maupun yang tidak bisa diukur.

Contoh resolusi Ramadan yang bisa diukur misalnya melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh setiap harinya. Sedangkan contoh yang tidak terukur misalnya menjadi pribadi yang lebih sabar atau menjadi seseorang yang lebih ikhlas.

Haruskah menyusun resolusi Ramadhan?

Ya tidak harus sih.

Selain itu, membuat resolusi semacam ini juga tidak harus ditulis atau ditetapkan. Akan tetapi sebagian orang merasa terbantu untuk diingatkan dengan menyusun harapan-harapan atau target-target serta menuliskannya.

Dalam tulisan ini saya ingin berbagi ide resolusi Romadhon tahun 2022/1443 Hijriah, yaitu beberapa amalan unggulan yang bisa dijadikan target untuk dilaksanakan.

Inti dari amalan unggulan yang saya muat atau sarankan dalam tulisan ini adalah jika dilihat benang merahnya: amalan yang esensial dan bisa dilakukan kapan saja tanpa terikat tempat dan waktu di bulan Ramadhan.

Selain itu ada kata kunci lainnya, yaitu: jika memang belum mampu melakukan hal-hal yang besar maka lakukan saja hal-hal kecil terlebih dahulu tetapi konsisten.

Seorang teman pernah bilang, dia bukanlah pelari cepat, tetapi dia tidak pernah mundur ke belakang, konsisten jalan ke depan. Kalimat yang menarik, bukan?

Well, di dunia ini ada banyak sekali orang-orang luar biasa yang bisa melakukan hal-hal besar. Nah, jika di saat ini kita belum memiliki kesanggupan untuk melakukan hal besar di Ramadhan nanti, jadikanlah hal besar itu adalah konsistensi kita melakukan suatu amalan meskipun amal yang sederhana.

Inilah amalan-amalan tersebut:

1. Menghitung Kesalahan Diri dan Bekal Apa yang telah Disiapkan untuk Hari Akhir

Di Ramadhan kali ini, mari kita mengingat kembali berbagai kesalahan yang pernah kita lakukan baik yang dilakukan dengan sengaja maupun yang tidak disengaja serta yang tidak mudah begitu saja kita tinggalkan, serta bekal apa yang telah kita persiapkan untuk kematian kita.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 18)

Beberapa pertanyaan berikut bisa menjadi bahan atau trigger untuk kita renungkan masing-masing:

Apakah aktivitas sehari-hari kita terbebas dari kezaliman baik terhadap diri sendiri maupun orang lain?

Apakah bisnis yang kita lakukan terbebas dari hal-hal yang Allah haramkan?

Apakah makanan yang masuk ke mulut kita, dibeli dengan uang yang halal?

Apakah urusan kita sering menyebabkan kita melalaikan shalat?

Seberapa sering kita merasa tidak sanggup mengucapkan “tidak” ketika kita harus mengucapkan “tidak”?

Apakah diri kita di masa lalu akan bangga dengan apa yang kita perbuat saat ini?

Itu hanyalah beberapa pertanyaan dari berbagai pertanyaan yang bisa ditanyakan kepada diri masing-masing.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jujur. Tidak perlu mencari-cari alasan atau pembenaran.

Manusia diciptakan bukanlah untuk tidak pernah berbuat salah sama sekali di dunia ini, karena itu mustahil.

Yang diminta dari manusia adalah mengakui kesalahan, senantiasa bertaubat dan beristighfar, berusaha meninggalkan kesalahan, intinya tiap kali berbuat salah kita berusaha kembali mendekat kepada Allah.

2. Memperbanyak Istighfar

Saya pernah menulisnya di artikel berjudul “Istighfar: Jalan Pertolongan Allah, Penyempurna Kekurangan Amalan, Mencegah Azab Allah”, bahwa istighfar adalah amalan esensial yang memiliki keutamaan sebagai jalan pertolongan Allah, penyempurna kekurangan amalan, dan penghindar dari azab Allah.

Salah satu momen yang dianjurkan untuk beristighfar adalah saat sahur.

3. Memperbanyak Berdoa

Ini adalah saat terbaik untuk berharap dan berdoa.

Perhatikan rangkaian ayat tentang Ramadhan di Surat Al-Baqarah ayat 183-187, ada 2 hal yang sangat menarik!

Pertama, mari kita perhatikan pesan yang dibawa masing-masing ayat tersebut (ayat 183 hingga 187):

  • Ayat 183 tentang kewajiban berpuasa.
  • Ayat 184 tentang keringanan untuk tidak berpuasa dan kewajiban menggantinya di hari lain dan/atau membayar fidyah.
  • Ayat 185 tentang bulan Ramadhan bulan diturunkannya Al-Qur’an, serta keringanan untuk tidak berpuasa dan kewajiban menggantinya di hari lain.
  • Ayat 186 Tentang Allah itu dekat dan mengabulkan permohonan (doa).
  • Ayat 187 Tentang hubungan suami-istri yang dilarang saat berpuasa dan diperbolehkan setelah waktu berbuka.

Perhatikan ayat 183-185 bicara tentang seputar puasa Ramadhan, tahu-tahu terselip ayat 186 yang berbicara tentang dekatnya Allah dan harapan bagi orang yang berdoa. Lalu ayat 187 balik lagi bicara tentang puasa Ramadhan.

Ini menjadi isyarat bahwa doa merupakan amal ibadah yang tidak dapat dilepaskan dari Ramadhan, bahkan peluang dikabulkannya doa orang yang berpuasa di bulan Ramadhan menjadi lebih besar.

Hal yang menarik kedua adalah redaksi atau pilihan kata di ayat itu. Di depannya ada kata “yas’alunaka” yang maknanya “apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)”.

Jadi begini, di Al-Qur’an ada beberapa ayat yang menggunakan kata “yas’alunaka” atau “jika mereka bertanya kepadamu”, contohnya:

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.’” (Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 85)

” …. Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, ‘Memperbaiki keadaan mereka adalah baik!’” (Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 220)

dan beberapa ayat lainnya yang berpola sama.

Nah, perhatikan kata yang digarisbawahi, semuanya punya pola “apabila engkau ditanya tentang ‘sesuatu’ maka engkau katakanlah bahwa ‘sesuatu’ itu..”, artinya ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya oleh orang-orang tentang sesuatu maka Allah perintahkan Beliau untuk menjawabnya bahwa sesuatu itu begini dan begitu.

Akan tetapi khusus Surat Al-Baqarah ayat 186 ini ternyata ada perbedaan pola:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 186)

Perhatikan yang digarisbawahi, kali ini polanya “apabila engkau ditanya tentang X maka Aku jawab X itu..”, nah, sudah terlihat kan bedanya?

Ya, benar, polanya berubah, tidak ada kalimat “katakanlah” seperti di ayat-ayat lainnya yang memiliki “yas’alunaka” di dalamnya.

Di ayat ini ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala maka pilihan katanya bukan lagi “katakanlah” melainkan langsung Allah sendiri yang menjawab “sesungguhnya Aku dekat”!

Jadi bukan “katakanlah wahai Muhammad kepada mereka bahwa Aku dekat” melainkan Allah sendiri yang langsung menjawabnya “sesungguhnya Aku dekat”.

Ini memberikan nuansa yang menggugah jiwa bahwa Allah benar-benar dekat kepada hamba-hamba Nya sampai-sampai untuk menyampaikan bahwa Dia adalah dekat itu langsung Allah sendiri yang menjawabnya.

Maka menjadi jelas bulan Ramadhan adalah bulan di mana kita hendaknya meninggikan harapan dan memperbanyak berdoa dengan disertai keinginan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Salah satu momen terpenting yang sering terlupakan adalah berdoa sebelum berbuka.

Menjelang buka puasa biasanya ada acara TV, ada momen berkumpul bersama keluarga, dan aktivitas lainnya, maka saat itu jangan lupa berdoa.

Di Ramadan 2022/1443 H ini mari kita menyediakan waktu untuk berdoa sebelum berbuka.

4. Mengharapkan Kenikmatan Tertinggi di Surga: Memandang Allah Subhanahu wa Ta’ala Kelak di Akhirat

Saya telah menulis tentang hal ini di tulisan berjudul “Tagihan Internet 50 Ribu Yen”.

Sebenarnya ini masih satu paket dengan no 3 yaitu berdoa. Tetapi saya pisahkan ke poin tersendiri karena ada kekuatan di balik berharap meraih kenikmatan tertinggi di surga.

5. Membaca Al-Qur’an

Tidak boleh ada satu hari pun di bulan Ramadhan yang dilalui tanpa membaca Al-Qur’an. Di atas sudah diungkap bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an (termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 185).

6. Mengeluarkan Harta di Jalan Allah

Bisa dengan memanfaatkan berbagai layanan infaq dan sedekah yang terpercaya untuk menyalurkan infaq dan sedekah, diberikan kepada orang-orang yang memerlukan, menyediakan buka puasa, dan banyak lagi.

Silakan pilih mana yang terbaik yang penting di Ramadhan kali ini mari bersihkan harta kita dengan membelanjakannya di jalan Allah, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

7. Latihan Fisik

Saatnya mulai merutinkan latihan fisik, biar sedikit yang penting konsisten. Rekomendasi saya adalah plank.

Silakan cari di Google apa itu plank. Ini adalah salah satu latihan fisik yang belakangan ini saya coba tekuni. Sederhana dan tidak perlu bergerak tetapi baik buat memperkuat inti/core tubuh.

Jangan lupa niatkan latihan tersebut untuk mendukung atau meningkatkan kemampuan tubuh kita dalam beribadah.

Nah, itulah 7 resolusi Ramadhan yang saya ajukan dalam tulisan ini.

Selanjutnya, ada beberapa hal terkait resolusi Ramadhan yang perlu sama-sama kita perhatikan.

Pertama, pahami tujuan membuat resolusi Ramadhan.

Tujuan membuat catatan amalan-amalan target Ramadhan ini adalah untuk membantu mengingat apa yang harus dilakukan dan menganalisis progres atau perkembangan diri.

Resolusi Ramadan berfungsi sebagai tool atau alat kontrol diri.

Kita tidak bisa membandingkan secara riil tingkat keimanan diri kita di tahun ini dengan tingkat keimanan di tahun lalu. Akan tetapi secara kasar kita bisa membandingkan amalan ibadah tahun ini dengan tahun lalu.

Contohnya, jika di bulan Ramadhan tahun ini seseorang tidak membaca Al-Qur’an sampai tuntas atau khatam padahal tidak memiliki alasan syar’i, sedangkan tahun lalu malah bisa khatam sampai 3 kali, maka dia perlu mencurigai dirinya telah terjadi penurunan keimanan pada dirinya.

Hmm.. mencurigakan sekali, kenapa ya saya sekarang jadi mengantuk tiap kali mau tilawah? Apa ya yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya? Kira-kira seperti itu.

Jadi target tersebut dapat menjadi analisis kondisi keimanan diri secara kasar.

Hal yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah waspadalah terhadap sombong dan riya.

Ingatlah bahwa tujuan menulis amal tersebut adalah untuk kontrol diri, namun perlu diwaspadai adanya rasa sombong ketika telah berhasil mencapai target-target Ramadhan.

Sombong yang dimaksud adalah memandang remeh orang lain dan merasa lebih baik darinya karena telah melakukan berbagai amal sholeh. Seseorang tidak pernah memiliki hak untuk menyombongkan diri atas amal perbuatan yang dilakukannya.

Melakukan amal kebaikan adalah hidayah taufiq dari Allah, bukan sesuatu yang pantas untuk membuat seseorang menjadi sombong dan memandang remeh orang lain.

Adapun riya, adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan disertai keinginan untuk mendapat pujian atau sanjungan dari orang lain, atau menginginkan sesuatu dari ketaatan tersebut tanpa niat memperoleh keridhaan Allah.

Amalan yang dilakukan bukan ikhlas karena Allah, melainkan karena ingin terlihat sholeh, orang alim, dan sebagainya.

Demi pencapaian tujuan yang diharapkan dari resolusi Ramadhan, maka dalam meraih target-target tersebut seseorang hendaknya selalu mewaspadai munculnya kesombongan dan riya.

Simpan target yang Anda buat dalam hati saja, ditulis di kertas tersembunyi, atau jadikan target keluarga yang hanya bisa dilihat oleh anggota keluarga jika memang dimaksudkan untuk mendidik anggota keluarga untuk menghidupkan hari-hari Ramadhan dengan amal terbaik masing-masing. Seperti seorang ayah atau ibu yang memperlihatkan kepada anak-anak mereka bahwa mereka berdua selama Ramadhan jadi mengaji atau tilawah lebih banyak di banding hari-hari biasanya, dengan harapan anak-anak mereka jadi terbiasa melihatnya dan ingin ikut mengaji dan merasa aneh jika selama Ramadhan jarang mengaji.

Sekian tulisan ini semoga bermanfaat.

Iqbal – diakhir.blog

Featured Image: Pexels.com / Ahmed Aqtai

One response to “Ide Resolusi Ramadhan: 7 Amalan Esensial”

  1. Kalau zaman SD itu suka ada buku amalan Ramadan dari sekolah yang wajib diparaf orang tua dan imam salat. Kayanya bagus juga kalau bikin dan ditempel di dinding: Bapak, Ibu, Adik. Sepertinya saya akan bikin nanti kalau sudah menikah. Hehehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published.