Review Buku Jangan Mati Sebelum Berprasangka Baik kepada Allah

Hi Pembaca yang baik hati, terima kasih telah mengunjungi diakhir.blog.

Di blog ini saya pernah menulis review sebuah buku yang bikin saya bingung mana bagian penting yang mau saya tandai, karena semua halaman buku itu terasa penting. Buku itu adalah Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang karya Fumio Sasaki.

Nah, baru-baru ini saya menemukan sebuah buku yang setiap halamannya juga terasa penting dan bermakna. Buku itu berjudul:

Jangan Mati Sebelum Berprasangka Baik kepada Allah (ditulis oleh Muhamad Yasir, Lc.)

Muhamad Yasir, Lc., lahir di Bungintimbe, Sulawesi Tengah, 8 Mei 1976. Lulusan Imam Muhammad Ibnu Sa’ud University, LIPIA Jakarta ini pernah meraih tiga kali Islamic Book Fair Awards. Saat ini telah menulis puluhan buku anak dan dewasa, salah satunya buku berjudul Jangan Mati Sebelum Berprasangka Baik kepada Allah.

Pada kesempatan ini saya akan menulis review atau mengulas buku Jangan Mati Sebelum Berprasangka Baik kepada Allah tersebut.

Buku yang saya miliki diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar, cetakan pertama yaitu Januari 2023.

Pertama-tama saya ingin mengomentari sekaligus memuji buku ini dari segi penampilannya.

Gambar cover buku Jangan Mati Sebelum Berprasangka Baik kepada Allah
Sampul buku Jangan Mati Sebelum Berprasangka Baik kepada Allah

Seakan ingin memastikan orang yang melihat halaman sampul buku ini mendapat gambaran tentang apa isi buku ini, desainer cover menulis intisari buku ini pada bagian bawah sampul depan:

“Buku ini berisi riwayat shahih yang mempesona dari para nabi, sahabat, ulama salaf, orang arif, badui yang merasakan keajaiban hidup karena mempraktikkan husnuzhan alias prasangka baik kepada Allah. Dilengkapi quote pilihan, inspirasi, tadabbur dan nilai hidup yang istimewa”.

Kalimat itu sudah cukup menggambarkan secara garis besar isi buku ini.

Menurut saya ini adalah keunggulan dalam hal desain.

Selanjutnya mari kita membahas isi buku ini.

Judul buku ini diambil dari hadits, yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berpesan kepada mereka yang sakit keras agar tetap berprasangka baik kepada Allah dan beliau mengatakan pesan penting ini tiga hari sebelum beliau wafat:

“Janganlah salah seorang dari kalian meninggal dunia, sebelum ia berprasangka baik kepada Allah.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Di dalam buku setebal 226 halaman ini saya tidak menemukan halaman “Kata Pengantar”, “Pengantar Penerbit”, dan semisalnya. Mungkin di cetakan pertama ini saja dan kelak akan ditambahkan, atau bisa juga penulis buku sengaja melewatinya dan langsung ke inti atau isi buku.

Untuk memperoleh gambaran isi buku ini, kita bisa melihat halaman “Isi Buku” dan membaca judul-judul bagian atau bab di dalam buku ini, yaitu:

  1. Dugalah Hanya yang Baik kepada Allah.
  2. Apa Itu Husnuzhan?
  3. Tempat-Tempat Berhusnuzhan
  4. Husnuzhan kepada Allah Akhlak para Nabi dan Rasul
  5. Husnuzhan Kebiasaan Kaum Salaf dan Pahlawan Islam
  6. Husnuzhan Kearifan Badui dan Orang Bijak
  7. Seputar Pesona Husnuzhan kepada Allah
  8. Berprasangka Baiklah karena Semua akan Menjadi Baik
  9. Allah Lebih Baik dari yang Engkau Duga
  10. Orang-Orang yang Berprasangka Buruk
  11. Su’uzhan Membunuh Setiap Keindahan
  12. Agar Pandai Berprasangka Baik kepada Allah
  13. Khatimah

Sebagaimana saya bilang di awal, setiap halaman buku ini benar-benar bermakna. Maka saya pilihkan 4 inspirasi pilihan dari buku ini sebagai contoh inspirasi yang benar-benar menyentuh lubuk hati saya yang terdalam.

(1) Seorang badui pernah berkata, “Ya Allah, sungguh Engkau memberi Islam kepada kami padahal kami tidak pernah memintanya, masa Surga Engkau tidak beri padahal setiap saat kami memintanya.”

Sang badui, yakni suku pengembara yang ada di Jazirah Arab, dalam kisah ini tidak merasa pernah meminta hidayah Islam sampai kepadanya. Akan tetapi Allah telah menganugerahkan hidayah Islam kepadanya melalui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para Sahabat. Maka dia yakin bahwa kali ini, jika dia setiap saat meminta Surga kepada Allah, pasti Allah akan memberikan Surga itu kepadanya.

Kalimat ini benar-benar menggugah, menyentuh hati, dan saya bisa relate dengan doa yang dihaturkan sang badui. Karena saya memperoleh anugerah hidayah Islam dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui kedua orang tua saya yang muslim, dengan kata lain saya telah berislam sejak lahir. Allah telah memberikan anugerah itu meski dahulu saya tidak memintanya. Maka ketika saya memperbanyak meminta Surga kepada Allah, meminta berulang-ulang di setiap doa, saya harus berprasangka baik bahwa Allah akan memberikan Surga itu kepada saya.

(2) Hijab adalah kekhususan bagi wanita. Tidak ada pada lelaki. Setiap wanita berhijab, saat itu semua dihitung ibadah walaupun ia ke tempat-tempat wisata yang hukumnya mubah. Karena itu pandailah berhusnuzhan, Allah akan mencatat semua waktu sebagai ibadah.

Tulisan ini menyadarkan saya bahwa pada dasarnya ketika seorang wanita berhijab dan meniatkan “memakai hijab” itu sebagai ibadah ketaatan kepada Allah, maka selama ia memakai hijab tersebut sebenarnya dia sedang beribadah.

(3) Saat ibu Musa ketakutan akan bayinya, Allah berkata kepadanya, “Jika engkau takut, maka letakkan bayi itu di sungai.” Pertanyaannya, mengapa tidak dalam dekapan ibunya karena itu jauh lebih aman untuk bayi dan ibunya? Jawabannya, karena Allah ingin memperlihatkan perlindungan itu secara total bersumber dariNya, tanpa melibatkan siapa-siapa.

Tulisan ini mengingatkan saya bahwa pemberi keamanan yang sesungguhnya adalah Allah.

(4) Imam Ahmad bin Hanbal berhusnuzhan bahwa musibahnya segera diangkat. Suatu hari, saudaranya bernama Abu Abdullah bin Hanbal menulis surat kepadanya agar bersabar melewati hari-hari ia menghadapi musibah, Wahai Ahmad, kesabaran menghapus bencana, barangkali ia segera terangkat. Namun keimanan Imam Ahmad tidak bisa menerima persangkaan yang terkandung dalam kata barangkali. Karena itu, Imam Ahmad menjawabnya, telah kau sabarkan diriku dengan nasihatmu dan musibah ini pastilah akan pergi.

Imam Ahmad tidak menerima kata “barangkali”, maka dia menggantinya dengan “pasti”, karena besarnya prasangka baik dirinya terhadap Allah bahwa Allah pasti akan segera mengangkat musibah yang sedang dihadapinya. Bukan “barangkali”, melainkan “pasti”.

Bagaimana, inspiratif bukan?

Saya bersyukur telah menemukan buku ini karena dapat membantu mengingatkan saya untuk selalu berprasangka baik kepada Allah.

Apa Anda pernah membaca buku ini?

Iqbal – diakhir.blog

Featured Image: Pixabay.com / Inn

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top