Makan Mi Goreng Basi

Hari itu sebenarnya saya membawa bekal makan siang mi goreng ke tempat kerja.

Sayangnya saya lupa.

Saya baru ingat ketika di sore hari saya mencari sesuatu di dalam tas, lalu melihat ada kotak makan siang.

Saya pun membuka kotak bekal, tampaknya mi goreng yang dibuat sejak subuh itu mulai basi.

Saya mencicipinya buat memastikan.

Ternyata benar, beberapa bagian mi goreng itu basi.

Mestinya saya membuangnya saja..

Akan tetapi saat itu ada rasa penyesalan karena bisa-bisanya saya melupakan makanan favorit saya, yang bagi saya itu setara dengan sambel cumi, rendang, dendeng sapi, atau udang balado.

Selain itu sayang juga jika makanan tersebut dibuang sementara di tempat lain banyak orang yang kelaparan.

Sayang jika makanan dibuang sementara di tempat lain banyak orang yang kelaparan.

Maka.. saya pun nekat melahap mi goreng basi tersebut. Seutuhnya!

Setelah menghabiskan mi goreng tersebut, saya melanjutkan pekerjaan.

Setelah itu pulang ke rumah naik bus.

Di perjalanan, bus yang saya tumpangi terjebak macet.

Sebenarnya kemacetan itu bukan hal yang luar biasa, terlebih di Jumat sore, akan tetapi kali ini ada yang berbeda sebab.. perut saya terasa sakit melilit!

Ada yang tidak beres di perut saya, besar kemungkinan itu adalah reaksi karena memakan mi goreng basi barusan.

Rasanya sungguh tidak nyaman.

Waktu terasa berjalan lambat…

Azan maghrib telah berlalu, rasanya saya ingin segera sampai ke rumah.

Saya menyesal telah nekat menghabiskan mi goreng itu.

Kejadian makan mi goreng basi tadi telah menyadarkan saya:

Lupa telah membawa bekal makan siang hingga basi adalah satu kesalahan.

Nekat menghabiskannya adalah kesalahan lainnya.

Maksud hati menebus kesalahan, ternyata malah bikin kesalahan baru.

Dalam hidup ini kita semua pernah dan masih akan melakukan berbagai kesalahan.

Itulah sebabnya setiap muslim diperintahkan untuk beristighfar.

Anda tentu pernah mendengar peribahasa “nasi telah menjadi bubur” yang artinya “perbuatan yang sudah terlanjur terjadi”.

Ada orang yang bilang jika nasi sudah menjadi bubur maka sekalian saja tambahkan kerupuk, cakwe, kacang, ayam, jadilah bubur ayam.

Dengan kata lain jangan menyerah dengan apa yang telah terjadi.

Akan tetapi dalam kejadian mi goreng basi yang saya alami, tidak ada penyelesaian yang tepat terhadap kesalahan tersebut selain membuang mi goreng tersebut.

Mungkin ada cara lainnya, tetapi yang pasti bukan dengan tetap memakannya apa adanya.

Penyesalan yang saya rasakan karena lupa telah membawa bekal makan siang itu mestinya tidak saya tindaklanjuti dengan melakukan kesalahan lainnya, yaitu memakannya.

Tadinya kesalahan saya hanya satu, maka dengan tetap memakannya kesalahan saya jadi bertambah.

I should have just let it go.

Melepaskan, merelakan kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu perlu dilakukan jika kesalahan tersebut memang tidak bisa ditebus secara langsung.

Kemudian beristighfar dan senantiasa melakukan amal kebaikan.

Itu lebih baik daripada dihantui rasa bersalah atas kesalahan yang tidak bisa diperbaiki secara langsung yang ketika terlalu banyak memikirkannya malah menjadi kontraproduktif.

“Bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada.

Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya.

Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik”

(Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Al-Tirmidzi)

Iqbal – diakhir.blog

Update: 4 Desember 2021

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami, ayah, penikmat kopi, joging, berenang, senang belajar hal esensial.

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: