“7 Kali Jatuh, 8 Kali Bangkit” dan Istighfar

Istri saya cerita beberapa waktu lalu ibu saya bilang kepadanya bahwa sejak peristiwa kami sekeluarga terpapar Covid-19 lalu yang menyebabkan ayah saya tiada, ibu saya merasa kehilangan sosok tempat bersandar.

Sekarang ibu berharap bisa bersandar kepada saya sebagai anak laki-lakinya yang tinggal paling dekat dengannya yaitu tinggal serumah dengannya.

Istri saya lalu melanjutkan: ibu kemudian bilang, oleh karena itu beliau merasa sedih ketika melihat saya belakangan ini tampak bersedih.

Cerita dari istri saya tersebut membuat saya terenyuh.

Sebab memang benar, belakangan ini saya sedang merasa galau dan sedih.

Menjadi orang yang diharapkan untuk bisa diandalkan dalam kondisi yang lemah dan letih, ini seperti saat terpapar Covid-19 lalu di mana saya, ibu, dan istri merasa lemah tidak berdaya tetapi juga mesti merawat ayah.

Well, kehidupan ini memang bagaikan kereta atau pesawat terbang. Kita siap atau tidak siap maka kereta akan tetap bergerak maju, pesawat akan tetap takeoff.

Dengan atau tanpa kita.

Meski kita merasa tidak siap, kehidupan akan terus berjalan.

Meski saat ini saya tengah merasa:

Belakangan ini melakukan berbagai aktivitas yang terasa semakin melelahkan dan tidak sesuai dengan passion.

Baru saja terpapar Covid-19 yang rasanya ampun-ampunan. Selepas negatif pun ternyata saya tidak langsung pulih.

Baru-baru ini anak saya sakit hingga nafasnya berbunyi, saat diukur saturasinya dengan oximeter sempat terlihat angka 91, yang menyebabkan saya menghentikan pekerjaan dan mematikan laptop, untuk fokus kepada anak saya.

Khawatir ada dampak long Covid.

Dan berbagai permasalahan dan kejadian lainnya.

Kehidupan akan terus berjalan sampai akhir.

Baru-baru ini saya mendengar cerita dari seseorang yang merasa kelelahan juga sampai-sampai ingin menangis tetapi tidak bisa menangis.

Dengan tidak menangis rasanya malah lebih sakit.

Saya pun tersadar ternyata saya juga kesulitan menangis.

Sepertinya beberapa hal di masa lalu, it’s long long journey, telah menjadikan saya tidak mudah menangis fisik dan lebih mudah menangis di dalam hati.

Bahkan saat ayah saya wafat pun saya tidak bisa menangis.

Dengan begitu rasanya malah jadi sesak nafas.

Nah, meski saya cerita hal yang menyedihkan barusan, akan tetapi saya bukan ingin curhat di tulisan ini.

Saya hanya ingin membuat sebagian pengunjung blog ini merasa relate atau berhubungan dengan tulisan ini.

Barangkali saat ini ada di antara pengunjung blog ini, yang sedang membaca tulisan ini, sedang merasa lelah dan lemah akibat pukulan badai ujian bertubi-tubi.

Saya pun juga demikian..

Dan saya ingin bilang, yuk kita sama-sama berusaha untuk bangkit lagi dari setiap jatuhnya kita.

Saya punya 1 peribahasa Jepang favorit saya, yaitu:

七転び八起き

Yang dibaca “nanakorobi yaoki” dan berarti “7 kali jatuh, 8 kali bangun”.

Makna peribahasa tersebut adalah semangat untuk pantang menyerah meski sudah berkali-kali jatuh.

Bisa dibayangkan sosok yang jatuh, lalu bangun, lalu jatuh, lalu bangun.

Menggambarkan semangat pantang menyerah.

Blog yang ada di hadapan Anda saat ini bukanlah blog yang ditulis oleh seorang yang sempurna.

Penulisnya hanyalah seorang yang jatuh berulang kali, mencoba bangun, bangkit berulang kali pula.

Saya hanya ingin menjadi teman Anda yang saat ini merasa jatuh.

Meski dari jauh, meski hanya bisa mengajak melalui tulisan ini.

Sebagai teman, saya akan mengajak mari sama-sama berjuang untuk bangkit dari kejatuhan.

Baik untuk diri sendiri, maupun untuk orang-orang tercinta.

Dan sebagai teman, saya juga ingin bilang salah satu hal paling esensial yang perlu dilakukan saat ini adalah memperbanyak istighfar.

Saya meyakini semua kesulitan yang saya alami tidak lepas dari akibat dosa-dosa yang saya lakukan selama ini.

Tidak ada yang paling layak disalahkan atas apa yang saya alami selain diri saya sendiri.

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Al-Qur’an Surat Asy-Syura ayat 30)

Oleh karena itu mari sama-sama membaca tulisan ini: “Istighfar — Tadabbur Tafsir Surat Nuh 10-12, Fussilat 6, Al-Anfal 33”.

Istighfar adalah amalan yang paling dibutuhkan oleh orang-orang yang jatuh berkali-kali seperti saya dan juga Anda yang saat ini juga merasa jatuh berkali-kali.

Mari sama-sama bangkit dari kejatuhan dengan beristighfar.

Iqbal – diakhir.blog

Featured Image: Pixabay.com/sdafjwwj

Tulisan ini diupdate pada tanggal 26 September 2021.

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami, ayah, penikmat kopi, joging, berenang, senang belajar hal esensial.

3 comments

  1. Baru sadar, ternyata dekat dot page ganti alamat toh. Pantes gak muncul di daftar bacaan saya.

    Menariknya, kenapa orang jepang menggunakan angka tujuh atau delapan.

    Kalau Indonesia sepertinya angka 10 dan 11.

    Liked by 1 person

    1. Betul mas Ridha, dekat.page udah ganti alamat jadi diakhir.blog (bisa juga dengan diakhir.com). Tulisan-tulisannya juga beberapa diformat ulang dan ada juga yang dihapus.

      Iya yah, kenapa 7 & 8 sepertinya menarik juga buat didalami.

      Terima kasih sudah berkunjung ya mas.

      Liked by 1 person

  2. Tetep semangaaaat mas Iqbal :). Pandemi ini memang melelahkan. Mentalku juga sempat down, lebih Krn banyaaak orang2 di sekitarku yg kena dan meninggal, termasuk mama. Kehilangan orang terdekat benar2 jadi pukulan.

    Tapi memang situasi di mana kita bisa bangkit lagi dan lagi, pasti bakal bikin kita lebih kuat menghadapi cobaan berikutnya :). Semoga keluarga mas Iqbal cepet pulih dari sisa2 covid ini yaaa.

    Liked by 1 person

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s