4 Hikmah yang Saya Peroleh saat Sekeluarga Terpapar Covid-19

Di tulisan sebelumnya saya menceritakan pengalaman saya dan keluarga melakukan isolasi mandiri (isoman) karena terpapar Covid-19 serta 9 poin seputar pengalaman saya dan keluarga melakukan isolasi mandiri di rumah karena terpapar Covid-19.

Di tulisan kali ini saya ingin berbagi catatan mengenai 4 poin hikmah yang saya peroleh dan rasakan dari kejadian luar biasa tersebut (kami kehilangan ayah kami).

Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan agar kita senantiasa berusaha memetik hidayah dari kejadian tersebut dan mewaspadai risiko gagal dapat hidayah.

1. Mengupayakan yang Terbaik akan Membantu Menenangkan Hati

Kami sekeluarga kehilangan ayah kami setelah kami sekeluarga terpapar Covid-19.

Tentu ini menjadi hal yang menyedihkan bagi kami sekeluarga yang mengharapkan ayah bisa lekas pulih.

Sebenarnya saya sendiri pun membayangkan ayah segera sembuh dan bisa kembali duduk di kursi rodanya untuk menonton TV, sekadar berkumpul, maupun ikut shalat berjamaah di rumah dengan anggota keluarga yang lain.

Saya pun membayangkan kami bercerita tentang hari-hari berat yang berhasil kami lalui.

Akan tetapi qadarullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan takdir yang berbeda dengan harapan kami semua, ayah kami meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat di rumah dan 5 hari dirawat di rumah sakit.

Dalam suasana berkabung, ada hal yang membuat kami merasa lebih terbantu untuk merelakan apa yang telah terjadi.

Yaitu bahwa selama ini kami telah berusaha melakukan yang terbaik sejauh yang kami bisa.

Sebab, manusia hanya bisa berikhtiar dengan disertai tawakkal, sedangkan yang menentukan bagaimana hasilnya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, apakah saya ikat unta saya lalu saya bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla ataukah saya lepas saja sambil bertawakkal kepada-Nya?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Ikatlah dulu untamu itu kemudian baru engkau bertawakkal!” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi)

Selama pandemi ini saya dan keluarga telah berupaya menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencegah kerumunan, mengurangi aktivitas di luar yang tidak perlu, mencuci tangan, dan lain-lain.

Sehingga tidak menyisakan kata “mestinya”, seperti “mestinya saya tidak melepas masker saat itu”, “mestinya saya tidak ngumpul makan bareng teman-teman saat itu”, dan “mestinya-mestinya” lainnya.

Pintu “mestinya” itu benar-benar tertutup sehingga kami bisa menarik nafas panjang kemudian mengatakan: kami telah melakukan yang terbaik yang kami bisa.

Perasaan batin telah melakukan yang terbaik sejauh yang kami bisa, sampai benar-benar mentok, membantu kami untuk mengurangi kesedihan yang kami rasakan.

2. Jalan Keluar Bisa Muncul dari Mana Saja, Termasuk yang tidak Disangka-sangka

Saat awal saturasi oksigen ayah turun menjelang tengah malam, ternyata kakak saya beserta suaminya membawakan tabung oksigen sehingga ayah pun bisa segera menggunakannya.

Alhamdulillah di tengah malam itu kakak dan suaminya belum tidur sehingga malam itu dapat kami hubungi.

Setelah itu saya pun merasakan bantuan-bantuan lainnya yang tidak pernah diduga sebelumnya, seperti:

(1) Bidan Wiwi, tetangga kami yang selama ini beberapa kali datang ke rumah buat mengecek kesehatan ayah saya yang stroke dan diabetes, ternyata setelah kami terkonfirmasi tes PCR terpapar Covid-19 beliau masih tetap berkenan datang ke rumah kami (dengan pakaian APD) untuk membantu memasang infus, memberi obat, dan lain-lain.

Padahal kondisi kami saat itu sedang berisiko tinggi.

Ini jelas sangat membantu kami ketika orang-orang di rumah semuanya sedang merasa lemah untuk merawat ayah.

(2) Adanya pinjaman mesin oksigen (oxygen concentrator) dari kantor yang sangat membantu kami karena tidak perlu lagi mengisi ulang tabung oksigen.

Alat tersebut bekerja dengan baik sehingga pernah saturasi oksigen ayah turun ke level 70 kemudian berhasil dinaikkan ke level 92 dalam 1 malam.

(3) Keluarga dan teman-teman, baik teman kantor, alumni SMAN 1 Bekasi, alumni FEUI angkatan 2003, alumni Hiroshima University dan sesama orang Indonesia yang pernah tinggal di Hiroshima, semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, mengirimkan bantuan makanan, vitamin, suplemen, masker, bahkan donasi.

Bahkan Pak Vid Adrison dosen pembimbing skripsi saya yang selama ini saya sudah tidak pernah berkomunikasi dengannya tiba-tiba turut menghubungi saya untuk menanyakan kabar. Saya benar-benar terharu beliau mengkhawatirkan kondisi saya.

(4) Satgas Covid-19 Partai Keadilan Sejahtera Jakasampurna Bekasi yang menghubungi dan memantau setiap hari melalui Whatsapp dan malah ada bu Ria yang malam-malam datang ke rumah menempuh risiko langsung ke zona merah rumah kami untuk membantu memasang kembali selang infus yang lepas.

Mereka juga banyak membantu dalam mendampingi pengurusan ayah ke rumah sakit.

Saya tidak sanggup menulis satu-persatu tetapi kami sekeluarga sepakat bahwa kami bisa merasakan betapa ada banyak bantuan yang tidak disangka-sangka.

Sebelum kejadian ini saya alami, saya senantiasa waswas apa yang harus saya dan keluarga lakukan ya jika virus Covid-19 qadarullah mampir ke rumah kami.

Saya tidak sanggup membayangkannya.

Tetapi kenyataannya Allah telah mengirim pertolongan dengan berbagai cara.

Ini menyadarkan saya agar dalam menghadapi persoalan hidup harus selalu merasa yakin bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa terjadi dalam bentuk apa pun dan datang dari arah mana saja, termasuk arah yang tidak disangka-sangka.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,

dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.

Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.

Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya.

Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (Al-Qur’an Surat At-Talaq ayat 2-3)

3. Pentingnya Beramal untuk Bekal Kematian

Ada momen ketika saya, ibu, dan istri berjuang bertiga untuk merawat diri kami sendiri, merawat ayah (mengganti pakaian, menyuapi air minum, dan lain-lain), serta menjaga kebersihan rumah (mencuci piring dan pakaian, mengepel lantai, menyemprot sanitizer, dan lain-lain).

Padahal kami sendiri juga masih pada lemah.

Saya sendiri merasa bisa pingsan sewaktu-waktu.

Akan tetapi kami tidak bisa berharap saudara-saudara yang lain untuk masuk ke dalam rumah untuk membantu mengganti pakaian ayah, misalnya.

Hal ini karena kondisi kami dan rumah kami yang sedang berisiko tinggi.

Situasi sedang tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam rumah.

Orang-orang hanya bisa membantu sampai pagar rumah saja, atau sesekali masuk ke dalam rumah dengan menggunakan jas hujan, atau mengirimkan donasi ke rekening.

Saat saya terbaring di lantai, saya hanya bisa berdoa dan berikhtiar meminum madu kurma kiriman kakak dan berbagai suplemen lainnya untuk mengembalikan kekuatan.

Ada batasan jelas yang tercipta dengan situasi terpapar Covid-19 ini, sehingga orang tidak bisa dengan mudahnya menghampiri kami untuk menolong kami.

Ini mengingatkan saya tentang kematian, terpikir dalam benak saya bahwa situasi yang saya alami ini adalah spoiler atau bocoran situasi kematian yang akan dialami semua manusia.

Bukankah kelak ketika mati kita tidak bisa mengajak keluarga atau teman untuk ikut menemani masuk ke dalam kubur bersama kita?

Maka, betapa penting menyiapkan bekal amal kebaikan karena pada akhirnya amalan tersebut sajalah yang akan dibawa hingga ke alam kubur.

“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur.

Yang mengikutinya adalah keluarga, harta, dan amalnya.

Yang kembali adalah keluarga dan hartanya.

Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim)

4. Carilah Sisi Positif dari Musibah yang Dialami

Sejak ayah kami dimasukkan ke kamar isolasi rumah sakit, kami tidak bisa lagi melihatnya.

Sebelumnya kami sekeluarga telah mendiskusikan 2 pilihan yang perlu diambil ketika kondisi ayah kian memburuk:

Pilihan pertama, membawa ayah ke RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi.

Konsekuensinya kami harus menerima bahwa ayah tidak bisa ditengok selama di ruang isolasi.

Kondisi ayah yang sudah melemah telah membuat kami tersadar bahwa harapan untuk sembuh pun juga tidak bisa terlalu tinggi.

Artinya ada kemungkinan kami tidak berada di sisi ayah di saat-saat terakhir.

Pilihan kedua, merawat ayah di rumah.

Segi positifnya kami bisa mendampingi ayah.

Sedangkan konsekuensinya kami yang positif di rumah dan dalam kondisi tubuh yang lemah dan ngedrop berkali-kali tidak bisa beristirahat sebagaimana seharusnya orang yang melakukan isolasi mandiri.

Dengan kata lain orang sakit merawat orang sakit keras.

Terlebih kondisi ayah yang saat itu sempat berteriak-teriak setiap beberapa menit, selama beberapa hari.

Di samping itu, perawatan di rumah tidak bisa selengkap di rumah sakit.

Dengan kondisi infusan dan selang oksigen yang terlepas berkali-kali, kesulitan menelan makanan dan minuman, sesak nafas, dan berbagai masalah lainnya, membiarkan ayah dirawat di rumah saja sama saja membiarkan ayah menderita tanpa penanganan yang paripurna.

Pada akhirnya kami memutuskan pilihan nomor 1 agar perawatan yang diberikan sudah benar-benar yang terbaik, setidaknya lebih baik daripada dirawat di rumah.

Setelah 5 hari dirawat, kondisi ayah terus menurun dan akhirnya beliau meninggal dunia dan dimakamkan sesuai protokol Covid-19.

Dengan protokol tersebut, maka jenazah beliau langsung diberangkatkan dari RS untuk dimakamkan di tempat yang telah ditentukan, yaitu TPU Pedurenan Bekasi.

Proses pengurusan pemakaman demikian mudah sehingga kami pun tersadar, ibu kami pernah bilang selama ini ayah senantiasa mengatakan kelak jika meninggal dunia tidak ingin merepotkan keluarganya.

Dan ternyata dengan meninggalnya ayah di RS tersebut kami merasakan bahwa proses pemakamannya demikian mudah sehingga kami sekeluarga tidak menemui kesulitan sama sekali.

Ini adalah salah satu hal yang menghibur hati kami bahwa harapan ayah untuk tidak menyulitkan keluarganya saat meninggal dunia benar-benar terwujud, masya Allah.

Saat tertimpa musibah, kita harus menggali berbagai hikmah yang ada di dalamnya, termasuk bahwa dengan mengalami musibah maka kita diingatkan kembali untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah.

Saat mengalami berbagai gejala, saya mulai teringat kembali akan kematian dan berjanji untuk melakukan perbaikan diri jika ditakdirkan survive.

Saya ingin memperbanyak istighfar dan meminta maaf kepada orang-orang.

Keinsafan tersebut adalah di antara sisi positif yang saya rasakan dari musibah terpapar Covid-19 tempo hari.

“Tidaklah seorang muslim ditimpa sesuatu seperti kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, dan duka-cita karena suatu kejadian, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim)

Nah, terkait hadit di atas saya ingin mengajak pembaca blog ini yang baik hatinya, mari kita berusaha memetik hidayah dari apa yang kita alami.

Dan perlu waspada agar tidak mengalami gagal dapat hidayah.

Sejujurnya saya merasa sedih dan miris melihat beberapa orang yang mengalami ujian ini yang bukannya berusaha memulihkan diri dan memperbanyak istighfar, malah menyibukkan diri dengan membaca informasi-informasi hoax yang sesat lagi menyesatkan.

Sehingga bukannya hati menjadi ikhlas menerima malah menjadi terhasut untuk berpikiran buruk.

Situasi tersebut pastinya berisiko menghambat hidayah.

Mari raih dan jaga erat hidayah, jangan biarkan ia lenyap!

Kesimpulan

Hikmah yang saya tulis dalam artikel ini sebenarnya tidak terbatas hanya 4 poin tersebut di atas.

Akan tetapi karena keterbatasan kemampuan serta tempat, maka saya mencukupkan pada 4 poin itu saja.

Semoga tulisan ini nikmat dibaca dan bermanfaat.

Iqbal – diakhir.blog

Featured Image: iStock.com/Yulia Lisitsa (Standard License)

Tulisan ini diupdate pada tanggal 12 Oktober 2021.

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami, ayah, penikmat kopi, joging, berenang, senang belajar hal esensial.

6 comments

  1. Subhanallah. Semoga Allah SWT gugurkan seluruh dosa melalui nikmat cobaan berupa sakit yang dialami. Turut berduka atas meninggalnya Ayahanda, insyaAllah Husnul Khatimah.

    Liked by 1 person

  2. Selalu ada hikmah di balik setiap ujian ya. Apapun kondisinya, selalu ada kebaikan bagi seorang Muslim.
    Cocok banget sama hadist berikut:

    Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya
    (HR Muslim)

    Liked by 1 person

  3. Banyak hikmah yang ternyata bisa kita ambil dari suatu kejadian, termasuk dari pengalaman terpapar covid-19 yang banyak dialami oleh kita dan orang-orang disekitar kita.
    Terima kasih sudah mengingatkan betapa masih banyak yang harus kita syukuri dalam hidup ini dengan segala pengalaman dan pelajaran yang Allah berikan pada kita

    Liked by 1 person

  4. Terkadang di saat kita mengalami cobaan begitu, aku percaya pertolongan Allah juga selalu ada. Aku juga percaya kalo kebaikan/keburukan yang pernah kita lakukan ke orang lain, akan berbalas nantinya. Makanya takuuut kalo sampe menyakiti orang lain, Krn kita ga tau kapan itu berbalik ke kita.

    Kalo ttg sisi positif dari hal terburuk, aku yakin selalu ada. Mungkin bagi orang2 yang terlalu putus asa, dia jadi susah melihat positifnya apa. Tp kalo kita mau berpikir sedikit, banyaaak sbnrnya kebaikan yg bisa diambil dari pandemi ini. Aku sendiri merasa lebih aware sekali dengan kesehatan. Jadi rutin minum suplemen setiap hari, memastikan anak2ku konsumsi vitamin setiap hari, dan kami LBH sadar Ama kebersihan. Aku selalu wajibkan anak2 , suami dan asistenku langsung mandi tiap kali kluar, even cuma ke warung sebelah. Kita ga tau virus itu menempel di mana. Temenku bilang lebay, aku ga peduli. Toh pas mama terkena covid dan akhirnya meninggal, kami semua ga tau mama tertular di mana, Krn saat itu kami patuh banget Ama prokes. Itu awal2 covid baru masuk soalnya. Jadi benar2 ikutin bgt prokes yg diminta pemerintah. Makanya sampe skr aku terbiasa utk maskeran, kluar hanya sesekali ,Kalopun jalan Krn jenuh, itu ttp dalam prokes ketat. Rasanya, begitu kita bisa melihat banyak sisi positif dari musibah, di situ kita bisa lebih semangat 🙂

    Liked by 1 person

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s