Istighfar — Right Now

Adakalanya masalah yang dihadapi seseorang membuatnya merasa putus asa dan tidak ada seorang pun yang bisa diharapkan membantu.

Mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing. Atau barangkali ada yang sebenarnya ingin membantu tetapi memang tidak bisa membantu.

Tidak bisa benar-benar berharap pertolongan kepada manusia, sekalipun yang berposisi tinggi atau kaya raya. Bahkan di masa pandemi ini, terbukti bisnis-bisnis besar pun mengalami guncangan dan kesulitan menolong diri sendiri.

Masalah memang datang silih berganti.

Sejatinya, hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tempat kita setiap saat memohon pertolongan terus menerus sampai hidup kita di dunia ini berakhir.

Saat jalan terasa buntu, mentok, dan saat diri ingin lari dari kenyataan hidup, seseorang perlu melakukan hal yang seharusnya dilakukannya untuk keluar dari kerumitan itu.

Dan salah satu tindakan esensial atau sangat penting dan mendasar yang perlu dilakukan seseorang mulai saat ini juga, right now, adalah introspeksi diri dan memperbanyak ISTIGHFAR.

Ya, istighfar, memohon ampun, dan bertaubat kepada Allah.

1. Istighfar: Jalan Pertolongan Allah (Surat Nuh Ayat 10-12)

Telah diriwayatkan ada beberapa orang yang mengadu kepada Hasan Al-Bashri tentang berbagai masalah yang mereka hadapi.

Ada yang mengalami musim paceklik, ada yang mengalami kemiskinan, ada yang mengalami kebunnya kekeringan, serta ada pula yang belum juga dikaruniai anak.

Menanggapi semua curahan hati tersebut, Hasan Al-Bashri memberi nasihat yang sama, yaitu MINTALAH AMPUN KEPADA ALLAH.

Ketika ditanya mengapa beliau memberi nasihat yang sama, yaitu meminta ampunan Allah, untuk persoalan yang berbeda-beda tersebut, beliau menjawab bahwa dirinya tidak memberi nasihat berdasarkan pikirannya sendiri, melainkan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Nuh ayat 10-12:

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’”(Al-Qur’an Surat Nuh ayat 10-12)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, di ayat-ayat sebelumnya, yaitu surat Nuh ayat 1-10, disampaikan bahwa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengadukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala perihal sikap kaumnya terhadapnya (Nabi Nuh menghadapi kaumnya dalam rentang waktu yang panjang, yaitu selama 950 tahun), yaitu tiap kali Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengajak kaumnya untuk mendekat kepada kebenaran, mereka justru malah berlari dan menjauh darinya.

Jika diseru kepada iman, kaumnya menutup telinga agar tidak mendengar seruan itu. Mereka menyombongkan diri dengan sangat, tidak mau mengikuti kebenaran.

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam juga sudah mendakwahi kaumnya baik secara terang-terangan maupun diam-diam, berbagai cara dilakukan agar dakwah menjadi lebih berkesan di hati kaumnya.

Pokoknya berbagai cara yang baik telah dilakukan dengan penuh kesabaran, akan tetapi kaumnya tetap saja bersikap membantah.

Kemudian sampailah pada ayat 10-12 tadi, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengajak kaumnya untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mengakui segala kesalahan mereka dengan segera bertaubat kepada Nya. Sebesar apa pun dosa-dosa seseorang, jika memohon ampunan kepada Allah maka Dia akan menerimanya.

Selanjutnya dalam ayat tersebut disebutkan bahwa niscaya Allah akan mengirimkan hujan yang membawa kebaikan.

Dianjurkan membaca surat ini dalam shalat Istisqa yaitu shalat meminta hujan ketika hujan telah lama tidak turun. Sahabat Umar bin Khattab Radhiallahu’ Anhu pernah naik mimbar untuk meminta hujan. Ketika itu Umar Radhiallahu’ Anhu hanya beristighfar dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an tentang istighfar, di antaranya adalah ayat tersebut.

Selanjutnya dalam ayat tersebut, disebut pula bahwa Allah akan memperbanyak harta dan anak-anak orang-orang yang senantiasa memohon ampunan kepada Nya. Allah juga akan mengadakan untuk mereka kebun-kebun serta sungai-sungai yang merupakan limpahan rezeki dari Nya.

Mengetahui bahwa istighfar merupakan salah satu kunci utama memperoleh pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat seseorang memiliki harapan.

Barangkali kerja-kerja yang dilakukan sudah sedemikian keras, malah bisa jadi sering berangkat pagi pulang malam demi hidup yang lebih baik.

Barangkali doa-doa telah sepanjang hari dilantunkan.. akan tetapi rasanya permasalahan tak pernah pergi jauh darinya, rasanya mandek, rasanya seperti menabrak tembok keras.

Maka, barangkali ada satu hal penting ini yang belum dilakukan, yaitu merutinkan istighfar. Tetapi bukan sekadar ucapan di lisan melainkan meyakininya di dalam hati.

Istighfar yang dilakukan dengan menghancurkan segala kesombongan diri. Ketika melihat orang lain melakukan kesalahan, tidak lagi menanggapinya secara melebihi batas sampai-sampai melupakan kesalahan diri sendiri, sebab bisa jadi kesalahan yang dilakukan diri sendiri jauh lebih parah menurut pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Istighfar: Penyempurna Kekurangan Amalan (Surat Fussilat Ayat 6)

Selain menjadi jalan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, istighfar juga merupakan penyempurna kekurangan amalan. Syaikh Ismail Al-Muqaddam dalam buku Fikih Istighfar menyampaikan ayat berikut beserta hikmah yang terkandung di dalamnya:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya).’” (Al-Qur’an Surat Fussilat ayat 6)

Dalam ayat tersebut terdapat isyarat bahwa dalam perjalanan untuk istiqomah niscaya akan ada kekurangan dari standar yang diperintahkan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menutupnya dengan istighfar untuk bertaubat dan kembali pada istiqomah.

3. Istighfar: Mencegah Adzab Allah (Surat Al-Anfal Ayat 33)

Selanjutnya, selain sebagai jalan memperoleh pertolongan Allah dan penyempurna amalan, istighfar juga memiliki keutamaan dapat mencegah adzab Allah.

Dalam buku Sukses Dunia & Akhirat dengan Istighfar & Taubat karya Abu Ustman Kharisman, istighfar menyebabkan terhindar dari adzab.

“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (Al-Qur’an Surat Al-Anfal ayat 33).

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala berjanji bahwa Dia tidak akan mengadzab suatu kaum selama ada 2 hal:

(1) Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hidup bersama mereka, dan

(2) mereka senantiasa beristighfar.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah lama wafat, sehingga hanya tinggal 1 saja sebab keamanan dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu istighfar.

4. Bila Merasa Malu Beristighfar karena Banyaknya Dosa-Dosa yang telah Dilakukan

Dalam buku Dahsyatnya Istighfar karya Hasan bin Ahmad Hamam, Imam Hasan Al-Bashri juga pernah ditanya, apa tidak malu seseorang yang banyak berbuat dosa, kemudian beristighfar, kemudian berbuat dosa lagi, kemudian beristighfar lagi, demikian seterusnya?

Akan tetapi beliau menjawab bahwa setan ingin berhasil menggoda manusia untuk bersikap seperti itu, yaitu malu untuk beristighfar sehingga tidak mau beristighfar. Maka jangan sekali-kali meninggalkan istighfar.

5. Penutup: Istighfar Amalan Esensial

Alasan saya mengangkat topik istighfar di dalam blog ini adalah ketertarikan saya pada hal-hal yang esensial, sedangkan istighfar merupakan hal yang esensial.

Istighfar adalah amalan yang terkesan sederhana tetapi justru teramat penting dan dahsyat jika dilakukan dengan benar, dilakukan sepenuh hati.

Seseorang ingin menunaikan ibadah haji, tetapi boleh jadi dia belum punya uang, baru bisa niat dan menabung sedikit demi sedikit.

Seorang ingin bangun di sepertiga malam untuk mengerjakan tahajjud atau qiyamulail, mungkin tidak bisa melakukannya secara rutin.

Seorang yang ingin pergi shalat berjamaah di masjid, mungkin terkendala sakit atau hujan deras. Malah saya pernah mengalami kebanjiran sehingga saya memakai pakaian basah selama seharian dan shalat dengan menggunakan pakaian itu.

Akan tetapi, istighfar adalah amalan yang semestinya ringan dikerjakan di berbagai keadaan, bahkan sambil mengetik tulisan ini pun saya bisa sambil beristighfar.

Jika belum mampu melakukan ibadah yang memerlukan energi, waktu, serta uang yang lebih banyak, jangan lewatkan amalan yang ringan di lisan tetapi berat di timbangan amal ini, yaitu istighfar. Maka istighfar benar-benar menjadi amal yang esensial.

Sebagai penutup, hendaknya setiap muslim memperbanyak istighfar, semoga dengan merutinkan istighfar terleraikanlah segala masalah, memperoleh pertolongan Allah, disempurnakan kekurangan amal ibadahnya, dan dijauhkan dari adzab Allah.

Iqbal – DiAkhir.Blog

Referensi

Al-Muqaddam, S. I. (2015). Fikih Istighfar. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Hamam, H. b. (2013). Dahsyatnya Istighfar. (A. Ghazali, & M. Albanni, Eds.) Solo: Mumtaza.

Kharisman, A. U. (2016). Sukses Dunia Akhirat dengan Istighfar dan Taubat. Bandung: Cahaya Sunnah.

Tim Ahli Tafsir di Bawah Pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. (2015). Shahih Tafsir Ibnu Katsir (10 ed., Vol. 9). (A. A. Bashri, Ed., & A. I. al-Atsari, Trans.) Bogor: Pustaka Ibnu Katsir.

Featured Image: Pixabay.com/Couleur

Tulisan ini diupdate pada tanggal 3 Juli 2021.

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami, ayah, penikmat kopi, joging, berenang, senang belajar hal esensial. DiAkhir.Blog adalah blog tempat saya mengikat inspirasi dengan cara menulis dan berbagi.

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s