3 Pelajaran Life-Changing dari Menanti Pulihnya WordPress COM

Suatu hari saya menemukan fakta mengejutkan bahwa WordPress.com pun bisa mengalami gangguan bug yang sangat mengganggu dan merugikan.

Padahal WordPress.com adalah Software as a Service (Saas) yang saya anggap sangat berkualitas.

Dari peristiwa tersebut saya memperoleh penegasan kembali bahwa:

  1. Tidak ada satu pun produk buatan manusia yang sempurna.
  2. Buying time promotes happiness.
  3. Terkadang sesuatu baru terasa nilainya ketika sudah tiada.

Sabtu, 5 Juni 2021 blog ini mendadak error, ketika saya mencoba menampilkan diakhir.blog yang muncul hanyalah halaman putih, blank.

Beberapa waktu kemudian, theme blog saya berubah dari Twenty Twenty One menjadi theme lain.

Perubahan itu terjadi otomatis, bukan saya yang melakukannya.

Saya memilih kembali Twenty Twenty One, tapi kini theme tersebut jadi berantakan: menu navigasi di bagian atas lenyap tak bisa dipulihkan.

Saya mencoba mengganti ke theme lain, lagi-lagi blog saya berulang kali blank!

Saya pun menghubungi Happiness Engineer melalui chat dan email dan mendapat respons bahwa saat ini beberapa laporan serupa juga masuk ke pihak mereka artinya ini bukan hanya masalah saya saja, saya diminta menunggu sementara mereka melakukan investigasi.

Beberapa jam kemudian saya mendapat info bahwa ini adalah issue atau bug yang sifatnya fundamental yang dampaknya dirasakan para pengguna WordPress.com.

Mereka yang tidak atau belum merasa mengalami bug tersebut bisa dengan mudah mereplikasi insiden yang banyak dilaporkan para pengguna WordPress.com tersebut.

Caranya sangat mudah, tinggal klik “Advanced General setting“, lalu klik “Save Changes” dan seketika website atau blog WordPress.com mereka pun akan langsung blank.

Selanjutnya theme mereka bakal rusak, tidak bisa dipakai dengan normal lagi.

Upaya penyelesaian masalah tersebut terdokumentasi pada issue Github berjudul:

Customizer: Changes are not being Saved #53431

Pada saat saya mulai mengetik tulisan ini, issue tersebut telah memasuki hari ke-5 namun belum juga terselesaikan. Sekarang sudah memasuki hari ke 12.

Saat menulis tulisan ini saya menggunakan theme Independent Publisher 2 yang belum rusak dan berharap bisa segera kembali menggunakan theme Twenty Twenty atau Twenty Twenty One lagi.

Update 28 Juni 2021: Bug telah terselesaikan. Saya mendapat kompensasi berupa partial refund 45 USD (sekitar 650 ribu rupiah). Sekarang saya memakai theme Twenty Twenty One.

Dari kejadian tersebut ada 3 pelajaran yang saya peroleh.

1. Tidak Ada Satu pun Produk Buatan Manusia yang Sempurna

Tadinya saya pikir error yang muncul ini hanya akan berlangsung sebentar saja.

Saya pun juga tadinya tidak menduga suatu saat akan mengalami masalah semacam ini di WordPress.com, layar yang blank dan theme yang pada broken.

Tetapi ini benar-benar terjadi.

Dan yang menjadi masalah bukan sekadar terjadi bug atau issue-nya, melainkan jangka waktu penyelesaian yang ternyata memakan waktu yang cukup lama.

Tentu waktu penyelesaian yang lama ini tidak menjadi masalah jika error yang terjadi tidak signifikan, tetapi ini error yang signifikan sehingga benar-benar sangat mengganggu.

Ini ibarat saya punya akun Facebook tetapi tidak bisa mengupload foto, punya Twitter tetapi tidak bisa mention.

Saya sampai berpikir untuk pindah ke Ghost atau Squarespace.

Tetapi seperti saya tulis barusan, tidak ada produk buatan manusia yang sempurna.

Saya teringat kejadian di 2015 silam ketika Google nyaris kehilangan harta paling berharga milik mereka: domain google.com.

Jika itu masih kurang aneh, perhatikan harga jualnya: 12 dolar saja!

Bukan Rp1 triliun, bukan Rp100 miliar, melaikan hanya 12 dolar, tak sampai Rp200 ribu.

Jadi entah error apa yang terjadi pada saat itu, seseorang berhasil membeli domain google.com dengan harga teramat sangat murah.

Ini jelas menjadi masalah besar bagi Google jika mereka tidak berhasil mengambil kembali domain tersebut.

Namun kemudian masalah itu pun berhasil terselesaikan dengan baik.

Sang pembeli berkenan menyerahkan domain tersebut kepada Google dengan sejumlah uang sebagai kompensasi dan dia pun mendonasikan uang tersebut, happy ending.

Wah, kalau kita meneliti lebih dalam hal-hal semacam ini mungkin kita bisa membuat daftar panjang.

Itu semua hanya menjadi bukti bahwa tidak ada produk buatan manusia yang benar-benar sempurna.

Nah, salah satu manfaat dari menyadari bahwa tidak ada produk buatan manusia yang sempurna adalah mencegah kita dari keragu-raguan mengeksekusi niat atau ide baik yang kita punya dengan alasan takut tidak sempurna.

Tak sedikit orang yang merasa ragu melakukan apa yang menurutnya ide yang baik tapi takut kalau dijalankan hasilnya tidak bagus.

Contohnya, ada orang yang ingin berbagi pengetahuan yang dia miliki dengan cara menulis blog, tapi dia tidak juga mewujudkan niat tersebut karena.. takut blognya tidak ada yang mengunjungi.

Saya sendiri pernah mengalami, tak kunjung menulis blog meski sudah punya niat blogging sejak lama.

Alasannya karena takut tidak konsisten dan tidak bisa bikin blog yang bagus.

Dengan menyadari tidak ada buatan manusia yang akan sempurna, maka tidak ada lagi alasan untuk takut memulai. Karena keinginan menghasilkan karya yang sempurna pada akhirnya hanyalah ilusi yang menghambat untuk mulai berkreasi.

Ada artikel yang bagus tentang hal ini, berjudul Can’t Do It Perfectly? Just Do It, Badly!”.

Tulisan tersebut mengulas intisari kuliah umum TEDx yang disampaikan oleh Olivia Remes dari University of Cambridge, “How to Cope with Anxiety” atau “Bagaimana Mengatasi Kecemasan”.

Olivia Remes menyampaikan ada 3 strategi untuk mengatasi kecemasan:

  1. Do It Badly (lakukan dengan buruk).
  2. Forgive Yourself (maafkan ketidaksempurnaan dirimu).
  3. Do It for Someone Else (lakukan untuk orang atau pihak lain).

Do it badly” adalah saran yang relevan pada bagian ini. “Do it badly” bukan berarti melakukan dengan asal-asalan. Ini tidak diartikan secara harfiah.

Melainkan begini, sebagian orang, terutama yang punya mental perfeksionis, tidak ingin mulai melakukan sesuatu yang kecuali dia yakin akan bisa melakukannya dengan baik.

Maka jargon “do it badly” ini bermakna, ya sudah, jalankan saja sekarang juga apa yang ingin Anda lakukan, meski Anda merasa lagi payah-payahnya, sedang buruk-buruknya.

Lakukan saja, tanpa perlu menunggu segalanya sempurna.

Ingatlah, bahkan Google pun pernah nyaris kehilangan domain google.com, bahkan WordPress.com pun pernah memiliki bug yang sangat mengganggu yang tidak bisa ditemukan penyelesaiannya dengan segera.

2. Buying Time Promotes Happiness

Alasan saya memilih Software as a Service (SaaS) WordPress.com untuk blog ini adalah peluang errornya yang lebih kecil.

Karena batasan-batasan yang diberlakukan, peluang terjadinya error di WordPress.com akan lebih kecil dibanding di WordPress.org yang bisa diotak-atik sebebas-bebasnya oleh yang punya blog.

Apabila ada error pun saya tidak perlu banyak repot-repot, hanya tinggal bikin tiket laporan, selanjutnya tinggal menunggu masalah terselesaikan.

Saya tinggal menikmati kopi saja dan menunggu permasalahan terselesaikan.

Menggunakan SaaS WordPress.com sama saja menyerahkan urusan pengelolaan server, security, dan maintenance WordPress kepada pihak lain yang dipercaya. Pengguna layanan WordPress.com bisa lebih fokus untuk memikirkan konten dan minum kopi.
Source: iStock.com/Dannko (Standard License)

Persis seperti apa yang ditulis Troy Hunt (Microsoft Regional Director and MVP dan pakar IT) di blognya yang menggunakan managed Ghost, ketika blognya down alias tidak bisa diakses, yang dia lakukan hanyalah duduk anteng di kolam renang atau pantai.

Menggunakan SaaS WordPress.com sama saja menyerahkan urusan pengelolaan server, security, dan maintenance mesin WordPress kepada pihak lain yang dipercaya.

Dengan demikian para pengguna layanan WordPress.com bisa lebih fokus untuk memikirkan konten.

Dalam berbagai hal menyerahkan urusan kepada pihak lain bisa membuat seseorang menjadi lebih fokus pada hal yang dianggap lebih penting untuknya.

Contohnya saya pernah mengikuti beberapa pelatihan yang mengharuskan saya menginap di hotel.

Semua peserta pelatihan mendapat fasilitas layanan laundry gratis.

Alhasil saya dan yang lainnya bisa fokus mengikuti jalannya pelatihan dari pagi hingga sore tanpa perlu memikirkan “waduh belum mencuci dan menyetrika baju!”

Contoh lainnya, seseorang membeli mesin cuci 1 tabung yang bisa digunakan untuk mencuci sekaligus untuk mengeringkan cucian secara otomatis.

Sebelumnya dia memiliki mesin cuci 2 tabung yang mana 1 tabung untuk mencuci, 1 tabung untuk mengeringkan cucian, sehingga proses mencuci memerlukan aktivitas manual memindahkan cucian dari tabung pencuci ke tabung pengering.

Dengan mesin cuci yang baru, seakan dia menyerahkan urusan memindahkan cucian dari tabung pencuci ke tabung pengering kepada orang lain (tentu ini hanya kiasan).

Dengan membeli mesin cuci baru tersebut, dia bisa menikmati tambahan waktu untuk melakukan banyak hal lainnya.

Dalam sebuah penelitian yang sangat menarik untuk disimak, berjudul Buying Time Promotes Happiness, malah disebutkan bahwa membelanjakan uang pada hal-hal yang bisa menghemat waktu bisa bikin seseorang menjadi lebih bahagia:

“Survei dengan sampel besar dan beragam dari empat negara mengungkapkan bahwa membelanjakan uang untuk layanan yang menghemat waktu memiliki kaitan dengan kepuasan hidup yang lebih besar.

Untuk menetapkan hubungan kausalitas/sebab-akibat (yaitu apa benar pembelian tersebut membuat hidup seseorang lebih puas), kami menunjukkan bahwa orang dewasa yang bekerja melaporkan kebahagiaan yang lebih besar setelah menghabiskan uang untuk pembelian yang menghemat waktu daripada untuk pembelian materi.

Penelitian ini mengungkapkan rute yang sebelumnya belum pernah diteliti dari kekayaan menuju kesejahteraan: menghabiskan uang untuk membeli waktu luang.”

(“Surveys of large, diverse samples from four countries reveal that spending money on time-saving services is linked to greater life satisfaction.

To establish causality, we show that working adults report greater happiness after spending money on a time-saving purchase than on a material purchase.

This research reveals a previously unexamined route from wealth to well-being: spending money to buy free time.“)

Tentu bagaimanapun juga di sini sangat bergantung preferensi atau pilihan pribadi masing-masing.

Ada orang yang justru menikmati menyelesaikan masalah sendiri, dengan begitu bisa belajar untuk menjadi lebih ahli.

Saya punya teman yang ketika komputer di kantornya bermasalah maka matanya jadi berbinar, “Saya suka tantangan untuk memperbaikinya,” katanya.

Semua kembali pada kenyamanan dan kepuasan batin masing-masing.

3. Terkadang Sesuatu Baru Terasa Nilainya ketika sudah Tiada

Selama menanti pulihnya WordPress.com saya jadi kangen salah satu theme yang selama ini paling lama saya gunakan yaitu Twenty Twenty.

Saat saya menulis tulisan ini, beberapa theme dalam kondisi broken, termasuk Twenty Twenty.

Selama ini saya bisa menggunakannya dan meninggalkannya kapan saja saya mau.

Tetapi kini saya tidak bisa melakukan itu sampai penanganan bug WordPress.com yang saya alami ini berhasil diselesaikan.

Twenty Twenty terasa bikin kangen.

Desainnya jadi semakin terasa luar biasa.

Tidak heran karena dibuat oleh salah seorang desainer theme WordPress yang paling terkenal, cerita tentang sang desainer dan latar belakang theme tersebut bisa dinikmati pada artikel berjudul SÃ¥ designades Twenty Twenty.

Artikel tersebut ditulis dalam bahasa Swedia, silakan gunakan fasilitas translator di browser yang Anda gunakan untuk bisa menikmatinya.

Yah, bukankah ini yang sering dialami seorang manusia, baru merasakan nilai sesuatu ketika sesuatu itu tidak lagi bisa dijangkaunya.

Saya pernah kuliah di Jepang selama 2 tahun.

Setelah saya kembali ke Indonesia saya jadi merasa kehilangan beberapa hal yang biasa saya lakukan dulu maupun yang belum pernah saya lakukan selama di Jepang.

Jika merasa kehilangan hal yang dulu saya anggap istimewa (seperti kemana-mana naik sepeda, makan sushi, makan udon, jalan-jalan ke toko mainan) tentu wajar.

Tetapi sekarang saya juga merasa kehilangan kesempatan untuk melakukan hal yang dulu tidak pernah saya pikirkan padahal bisa saya lakukan kalau saya mau.

Contohnya setelah pulang ke Indonesia saya baru kepikiran kenapa dahulu tidak mencoba menjelajah ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak ada dalam pikiran saya untuk melakukannya, misalnya menginap di hotel atau penginapan di sekitaran pulau Miyajima.

Padahal saya insya Allah mudah banget waktu itu jika ingin melakukan hal itu.

Atau.. kenapa ya saya dulu tidak bikin blog atau channel Youtube yang isinya hal-hal sederhana tapi menarik saat saya tinggal di sana?

Saya memang pernah membuat blog selama saya tinggal di sana, tetapi blog komunitas bukan blog pribadi sehingga sekarang blog tersebut sudah bukan milik saya lagi.

Well, demikian 3 pelajaran yang saya peroleh dari insiden WordPress.com saat ini.

Semoga nikmat dibaca dan bermanfaat.

Iqbal – diakhir.blog

Referensi

Whillans, A. V., Dunn, W. E., Smeets, P., Bekkers, R., & Norton, M. I. (2017, August 8). Buying time promotes happiness. 114(32), 8523-8527. doi:10.1073/pnas.1706541114.

Featured Image: iStock.com/Barish Baur (Standard License)

Tulisan ini diupdate pada tanggal 26 September 2021.

By Iqbal

Pembelajar di universitas kehidupan, suami, ayah, penikmat kopi, joging, berenang, senang belajar hal esensial.

8 comments

    1. Iyah, bagus ini ringan banget. Rencananya saya pakai sementara doang kalo Twenty Twenty udah bisa saya pakai saya mau pakai Twenty Twenty lagi, themenya bikin kangen 😀

      Lagi ada bug unik nih mas Benyamin di WordPress.com, theme2nya pada ga respon sama settingan customizernya.

      Liked by 1 person

    2. Padahal saya baru aja ganti domain nih dan tulisan-tulisan yang lama lagi satu persatu dipindah ke sini, rencana mau dirapih-rapihin dulu. Lah tahu2 layarnya blank, itu sabtu lalu.

      Liked by 1 person

    3. Ah iya, karena kalo di WordPress.com semua isinya itu ngikut ke akun, bukan ke domain, jadi ketika ganti domain isinya tetap aja paling trafficnya balik ulang dari 0. Kalo postingan-postingan juga masih ada cuma saya lagi rubah jadi ke draft semua dan dihidupin satu persatu (meski saya menganggapnya mindahin satu-persatu) setelah saya rapihin internal linknya dari domain lama ke domain baru (kalo self-hosted ngga perlu manual gini, tinggal pakai plugin 😀 )

      Domain lama dekat.page sekarang saya lagi pasang ke shared hosting. Rencana mau dijadiin toko online aja.

      Liked by 1 person

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s